Psikologi : Psycho Behavior

Psycho Behavior
Oleh : Dede Farhan Aulawi

Sahabat…
Dalam banyak kesempatan ketika memberi seminar / pelatihan saya sering ditanya hal – hal yang berkaitan dengan Human Behavior, terutama menyangkut hal – hal empirik yang sering terjadi di lapangan. Baik dalam melakukan analisa kasus di perusahaan, lembaga, bahkan hal yang bersifat individual, contohnya persoalan keluarga.
Apa yang kita lihat atas suatu perilaku tertentu sesungguhnya merupakan output fisik yang terlihat, tapi faktor pendorong perilaku yang sesungguhnya adalah masalah perilaku kejiwaan ( Psycho Behavior ).
Termasuk di dalamnya sikap mental dalam menghadapi stimulus dari luar. Banyak sekali kasus yang bisa terungkap dan terselesaikan dengan pendekatan ini, karena kita diajak menyelesaikan masalah secara komprehensif dan lebih dari sekedar faktor motivasi yang melatarbelakanginya.
Untuk membahas semua materi ini tentu cukup panjang, tapi pada kesempatan
ini saya ingin menulis secara khusus masalah perilaku lelaki (suami)dalam contoh kasus rumah tangga. dalam tulisan sebelumnya saya pernah menulis bahwa “wanita membutuhkan perhatian”, sementara “Lelaki butuh penghargaan / dihargai”. Sikap dasar seperti ini seringkali melatarbelakangi sikap-sikap yang lainnya. Meskipun tentu tidak berlaku bagi semuanya, tapi pada umumnya.
Aspek Kejiwaan suami yang memiliki penghasilan lebih kecil dibandingkan isteri-nya seringkali lebih memiliki jiwa yang super sensitif dibanding sebaliknya. Hal ini bisa dipahami karena seringkali seorang isteri yang penghasilannya lebih besar menjadi “kurang” bisa menghargai suami. Padahal itu merupakan kebutuhan penting bagi suami. Hal – hal yang kecil bias melebar menjadi persoalan yang melebar kemana – mana. Dan akhirnya tampak persoalan semakin memuncak dan membesar.Persoalan lain yang sering muncul adalah ketika kita membawa anggota keluarga untuk tinggal di rumah. Jika kurang komunikasi sebelumnya bias memantik persoalan baru. Ketika isteri mengajak anggota keluarganya, missal adik/kaka/saudara atau bahkan orang tua dalam jangka waktu yang cukup lama tanpa pemberitahuan dan izin suami seringkali menjadi persoalan juga. Mungkin ada orang yang memandang hal itu persoalan kecil dan mudah diselesaikan. Tapi “tidak” bagi orang yang memiliki aspek kejiwaan yang
relatif sensitif. Tabi’at dan kebiasaan yang berbeda dalam keluarga besarpun demikian. Saya pernah menangani sebuah kasus permasalahan pasangan selebriti Indonesia.
Latar belakang suami lahir dan besar dari keluarga berada sehingga memiliki kebiasaan makan di tempat yang nyaman dan hygienis. Sementara sang Istri berlatar belakang dari keluarga kurang beruntung, sehingga memiliki kebiasaan makan yang sederhana tapi dirasa enak. Jadi tidak bicara soal tempat yang nyaman, bersih, dan sehat.
Kebiasaan yang berbeda ini sering terbawa, sampai suatu saat menjadi persoalan ketika sang suami secara spontan berkata :”Kamu ini sudah kaya saja masih memiliki kebiasaan makan ( pecel lele pinggir jalan )di tempat makan jorok seperti ini ya ? dasar mental kampung, sudah lama di kotapun tetap aja kampung”. Mungkin ini soal ucapan spontan yang kurang kontrol dan emosional karena seringkali memiliki selera makan yang berbeda. Hal ini ditangkap oleh seorang isteri sebagai penghinaan yang sangat menyakitkan. Meskipun akhirnya sang suami meminta maaf atas ucapannya tersebut, tetapi kata-kata yang sudah terlanjur meluncur dan menancap langsung ke pusat jantung perasaan tak mudah untuk disembuhkan.sang Isteri berkata, bahwa “sampai kapanpun saya takkan pernah bisa melupakan ucapan penghinaan yang sangat menyakitkan itu”.
Kita sebagai outsider seringkali memandang persoalan itu sepele karena soal selera makan. tapi tidak demikian dengan mereka yang merasakannya. Kenapa ? karena bagi wanita yang dilihat bukan sekedar selera makannya, tapi “suami dipandang tidak memliki perhatian”, sementara si suami berpandangan bahwa ” isteri tidak bias menghargainya dengan mengajak makan di tempat – tempat kotor seperti itu”.
Dan banyak lagi kasus lain yang pernah saya tangani, yang bersumber dari soal ilmu perilaku. Kesimpulan sementara adalah :
1. Pahami sensitifitas perilaku kejiwaan pasangan
2. Mintai izin sebelum membawa anggota keluarga ke rumah untuk menetap.
3. Pelajari tabi’at dan kebiasaan yang berbeda
4. Bangun komunikasi untuk menghindari miss persepsi
Inilah sumbangsih tulisan singkat yang bisa saya sampaikan, mudah-mudahan memberi manfaat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: