Pengelolaan Ibadah Qurban Warga-21

Assalamu ‘alaikum wr. wb.,

Panitia ‘Iedul Adha 1429 H – DKM Masjid Jami Al-Hikmah RW-21 ; menerima titipan pelaksanaan ibadah hewan qurban Warga untuk dikelola sebagaimana mestinya.

Untuk Warga yang tahun ini belum sempat menunaikan Ibadah Hewan Qurban, dapat berpartisipasi memberikan infak/shodaqoh dalam rangka ikut men-syi’ar-kan bulan agung tersebut…

Silakan hubungi langsung Panitia pengelola di Masjid Al-Hikmah atau menghubungi Para Ketua RT masing-masing yang bertindak sebagai Koordinator penerimaan dan pendistribusian.

Terimakasih atas perhatian Warga, semoga pelaksanaan ibadah ‘iedul adha tahun ini, semakin menambah taqorrub Kita kepada Alloh SWT. , Amin. Wassalamu ‘alaikum wr. wb.

Ketua Panitia Pelaksana ‘Iedul Adha 1429 H,

Bambang Al-Kabul.

7 Balasan ke Pengelolaan Ibadah Qurban Warga-21

  1. jaetun mengatakan:

    Alhamdulillah pelaksanaan penyembelihan dan distribusi. aman, lancar dan terkendali .berkat kerjasama .kompak dan sabilulungan seluruh panitia Idul Qurban 1429 H. RW21 PCI 2.
    ditribusi ke wilayah binaan,pesantren ,Yayasan Dluafa dan warga sekitar telah kami kirimkan .
    tidak ada kepuasan lain dihari raya Idul Qurban selain
    menyaksikan betapa umat muslim Cipageran Indah 2
    peduli terhadap sesama,sukses Panitia

  2. Andi 05 mengatakan:

    Sebagai saran untuk pelaksanaan distribusi hewan qurban di tahun yang akan datang di lingkungan RW 21

    Daging Qurban Untuk Siapa?
    Oleh: MYM

    ——————————————————————————–
    Saudara seiman seakidah, Assalamualaikum wr.wb.
    ‘Idul Fitri 1428H baru saja meninggalkan kita. Walaupun tidak menjadi fitrah dengan tingkat dosa nol seakan seorang bayi, semoga selanjutnya nilai iman dan taqwa kita setidaknya meningkat dari pada sebelumnya. Mari kita sama bertekad, insya Allah.
    Tidak berapa lama lagi Hari Raya Idul Adha 1428H akan datang, mengingatkan semua muslim yang mampu bahwa saat untuk berqurban akan segera tiba. Kalau saja kita mau, ini dapat menjadi bahagian dari tekad tersebut diatas. Apalagi bila sebelumnya jarang atau malah belum pernah berqurban.

    Informasi pendek ini sengaja dibuat untuk sekedar “mengingatkan” kembali kita semua terutama bagi para Petugas Qurban, Penerima Daging Qurban dan juga bagi Yang Berqurban itu sendiri. Sering kita perhatikan di banyak tempat dari tahun ke tahun, bahkan sejak penulis masih kecil, kita telah keliru dalam melaksanakan qurban. Daging qurban telah dibagikan seakan-akan ada Pemerataan Makan Daging Tahunan (PEMADAT). Hampir merata seisi kampung dapat pembagian daging, tidak peduli apakah mereka pejabat, pengusaha, atau sangat banyak lagi orang-orang lainnya yang sebenarnya sama sekali bukan fakir miskin, yang bahkan sangat mampu untuk berqurban. Kalau perlu orang tertentu dapat bungkus yang istimewa, ada bagian yang enak sedap dimakan, misalnya jantung dan otak.

    Seperti barangkali saudara juga, penulis pernah mengetahui di beberapa tempat, daging qurban milik fakir miskin muslim ini malah dibagikan pula kepada non-muslim oleh segelintir panitia. Luar biasa, dimanfaatkannya fiqih darurat, seakan sudah tidak ada lagi fakir miskin dinegeri ini. Padahal, selain fakir miskin muslim dan yang berqurban itu sendiri, tidak ada yang berhak memakannya, biarpun dia itu misalnya Panitia Qurban, Ustaz/Ulama, Guru Mengaji, Imam Mesjid, Orang Tua Kampung, Pensiunan Orang Berpangkat, Teungku-Teungku lainnya, dan sebagainya.

    Mereka boleh mendapat jatah hanya bila mereka termasuk kategori fakir miskin. Demikian juga tukang jagal/cincang ternak qurban, mereka seharusnya diupah oleh yang berqurban dan tidak berhak mendapat jatah, kecuali bila kebetulan mereka juga fakir miskin. Itulah sebabnya orang yang berqurban diharuskan membayar lebih (di luar harga qurban) kepada Panitia Qurban untuk biaya operasional pelaksanaan, termasuk pemeliharaan ternak qurban menjelang penyembelihan.

    Sebagian panitia bahkan “mengarang” alasan: jatah itu untuk memancing supaya mereka berqurban pula nanti. Masya Allah! Apakah pasti semua Panitia yang tukang mancing ini sudah ikut berqurban?? Mari kita ingat bahwa daging qurban sudah sangat-sangat jelas syari’atnya siapa yang punya, dan sama sekali bukan “umpan pancing”.

    Semua bagian yang dapat dimakan dan diuangkan termasuk kaki dan kulit, adalah milik fakir miskin. Hanya milik fakir miskin. Ini adalah harga mati, tidak bisa ditawar-tawar lagi. Tidak ada dalil yang membenarkan bahwa kepala ternak qurban boleh diantar untuk direktur pasantren ini atau ketua madrasah itu. Tidak ada cerita kulitnya boleh diambil ketua ini ketua itu. Tidak ada istilah kalau sedikit boleh-boleh saja. Semuanya milik fakir miskin. Harap diingat, bahwa daging qurban juga bukan untuk anak yatim, kecuali anak yatim ini termasuk fakir miskin.

    Saudaraku. Jangan lagi hak si Fakir Miskin ini dipakai untuk pancing-memancing orang yang hatinya beku, orang yang mampu tapi enggan berqurban dan bahkan menerima daging qurban setiap tahun. Kalau mau memancing, marilah kita tunjukkan dengan teladan dan menghimbau mereka dengan baik dan benar. Semoga si Mampu yang selama ini menerima daging qurban tetapi tidak berqurban hanya karena tidak tahu, terbebas dari dosa. Insya Allah.

    “Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak. Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu: dan berqurbanlah”.
    (Q.S Al Kautsar : 1-2)

    Ayat ini begitu jelas dan tidak ada yang harus dipertanyakan lagi. Kemudian penggalan ayat berikut begitu tegas dan jelas berbunyi:

    “ … maka makanlah sebahagian dari padanya* dan ( sebahagian lagi ) berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara lagi fakir.”
    (Q.S. Al Hajj : 28)

    Catatan: * “makanlah sebagian dari padanya” dimaksudkan untuk yang berqurban.

    Sebagian orang membela diri dengan penggalan ayat berikut sehingga terjadilah pemeratan jatah bungkusan daging yang penulis sebut “PEMADAT” diatas :

    “…Maka makanlah sebahagiannya dan beri makanlah orang yang rela dengan apa yang ada padanya (yang tidak meminta-minta) dan orang yang meminta …”.
    (Q.S. Al Hajj: 36)

    Saudara-saudara sekalian, tidak ada ayat-ayat suci Al Qur’an yang bertentangan satu sama lain. Kalau pengertiannya tidak berdiri sendiri, maka pastilah ayat-ayat tersebut saling melengkapi dan/atau saling menjelaskan dengan ayat yang lain.

    Demikian pula dengan ayat-ayat di atas, terutama Al Hajj 28 dan Al Hajj 36. Orang yang rela (tidak meminta) dan orang yang meminta dalam ayat Al Hajj 36 seharusnya ditafsirkan sebagai orang-orang dari kalangan fakir miskin juga, supaya tidak bertentangan dengan makna dari ayat Al Hajj 28.

    Saudaraku seakidah yang tercinta. Jangan pernah lagi kita membuat Si Kenyang tambah kenyang, bila karenanya kita telah merampok hak dari orang-orang fakir dan miskin. Demikian juga, jangan suapi keluarga dengan rezeki yang bukan hak, karena akibatnya sangat perih. Na’uzubillahiminzalik.

    Kalau ada juga petugas yang mengirim daging qurban kerumah saudara, padahal saudara bukan fakir miskin dan tidak pula berqurban; maka tolaklah dengan baik dan katakan saudara tidak berhak. Mintalah diserahkan kepada yang berhak. Atau silakan terima dagingnya untuk menolong disalurkan segera kepada fakir miskin yang saudara ketahui paling layak menerimanya.

    Saudaraku sayang, Marilah bersama-sama kita bertekad untuk selanjutnya tidak mengulangi lagi kekeliruan di masa lalu (bila ada) dan mari kita bertekad untuk memberi hak kepada orang-orang yang memang berhak. Kalau seandainya daging qurban ternyata berlebih, tiada salahnya melebihkan jatah mereka. Kalau sudah tidak ada lagi fakir miskin di lingkungan kita, tetaplah berqurban dan bagikan kepada fakir miskin di tempat lain. Mereka pasti ada di mana-mana, sekalipun dinegeri Saudi yang kaya raya.

    BERQURBAN ITU ADALAH KEWAJIBAN UNTUK PERORANGAN YANG MAMPU, bukan atas nama Institusi, Persatuan Kampung, Partai, Yayasan, dll. Kalau mereka mau memotong ternak untuk makan bersama dan/atau dibagi-bagikan kepada anggota dan juga fakir miskin, silakan lakukan terus kebiasaan terpuji ini, selama sifatnya bukan riya. Tapi harus diingat, status penyembelihan itu BUKAN berqurban. Semoga Allah melimpahkan pahala yang banyak kepada pelaksananya.

    Marilah kita saling mengingatkan dalam menggali hikmah serta daya guna yang kaya tersimpan di balik hukum syari’at ini dan juga hukum-hukum syari’at manapun lainnya secara maksimal sesuai dibatas kemampuan kita masing-masing. Lebih kurang mohon diperbanyak maaf. Semoga Allah senantiasa menunjukkan kita semua ke jalan lurus. Amin.
    Wassalamu’alaikum wr.wb.

    dicopy dari Rakyat Aceh online

  3. Muslimah mengatakan:

    Tausiyah di atas bagus untuk kita semua… Insya Alloh pengurus Warga 21 kita lihat selalu sangat hati-hati dalam bertindak sesuatu hal. Untuk ibadah qurban ini telah berpegang dengan itu tentunya.
    Dan yang berqurban berupa sembelihan hewan (udhiyyah) maupun yang shodaqohnya, tidak ragu dengan telah mempercayakan kepada panitia yang muhlishien, telah selektif, faqih dan berpengalaman dalam tatacara pelaksanaan udhiyyah tersebut. Minimal telah memahami ‘fathul qorieb’, bab udhiyyah. Ana mengamatinya, tepat sasaran dalam pemberdayaan hikmah ibadah idul adha ini. Menghidupkan syi’ar, jalinan kebersamaan, empaty fuqoro, masakin, dhua’fa. dll.
    Catatan berikut mungkin berguna :
    Th 2008 : 5 sapi, 39 kambing dan -/+ Rp.4 jt shodaqoh.
    Th 2007 : 2 sapi, 58 kambing dan -/+ Rp.3 jt shodaqoh.
    Th 2006 : 4 sapi, 48 kambing dan -/+ Rp,2 jt shodaqoh.
    Dst ke tahun belakang yang senantiasa tinggi untuk ukuran rukun warga.
    Dengan fakta ini, senyatanya Panitia dituntut selalu solid, andal dan amanah melaksanakan kepercayaan tersebut.
    Terimakasih atas layanan tersebut tentunya.
    Selamat dan sukses selalu.

    Salam,
    Warga RW-21

  4. haidar mengatakan:

    Komentar buat bapak andi tentang qurban yang diambil dari aceh online.

    Dalam Fikih Qurban banyak pendapat dari para pendiri mazhab ,tentang siapa yang berhak memakan daging qurban. nasehat anda benar sesuai dengan literatur yang anda baca. kami juga panitia memiliki literatur lain yang dapat kami terapkan dan laksankan dan menurut kami pelaksanaan pengelolaan hewan qurban tidak ada yang salah,
    anda katakan teknis pelaksanaan distribusi kami anda istilahkan “PEMADAT ” karena kami
    1. membagikan kepada warga Binaan/”kurang mampu” / fuqoro / masakin / dhu’afa dan karena dilingkungannya tidak ada yang mampu berqurban. 2 kami berikan kepada pesantren yang dihuni oleh anak yatim piatu / dhu’afa masakin / fuqoro. 3 kami berikan kepada pesantren yang memiliki kurang lebih 200 santri yang tidak mampu / fuqoro / masakin / dhua’afa. 3 sebagian kami berikan kepada yang berqurban kurang dari 1/3 bagian. 4.sebagian kami berikan kepada warga sekitar baik muslim maupun nonmuslim bukankah ini ajaran islam yang Rahmatalilalamin, banyak hadis bagaimana kita berbuat baik kepada tetangga, kepada mereka yang memberikan pertolongan,membantu mengelola,menjaga dan mengamankan titipan hewan qurban, Apakah cukup kepada mereka kita hanya mengucapkan terimakasih ?.

    Qurban itu hukumnya sunat muakad yang memiliki aspek sosial yang luhung.insya Allah Pelaksanan Pengelolaan hewan Qurban di PCI 2 telah mengikuti syariat Agama

  5. yana mengatakan:

    Setujuuuuuuuuuuuuuuuuuuu……………….
    Kamana wae atuh…ari Andi……hehehehehehe

  6. ikhwan mengatakan:

    Semerbak wangi di taman, menghadapi perbedaan…

  7. h.bambang mengatakan:

    jangan lupa kerabat,tetangga handai taulan juga berhak atas daging qurban, karena ada fungsi sosialnya…..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: