Wacana : Irak, Api Tak Kunjung Padam…

Oleh : Dedy Djamaluddin Malik **

IRAK saat ini menjadi wilayah paling mematikan di dunia. Hampir setiap hari terjadi ledakan bom yang tidak hanya menewaskan kombatan, melainkan juga penduduk sipil yang tidak berdosa. Pada 22/1/07 lalu,lebih dari 130 orang tewas hanya dalam satu hari. Konflik sektarian antara kelompok Sunni dan Syiah menjadi potensi timbulnya perang saudara. Selain itu, aktivitas perekonomian yang terpukul akibat konflik menimbulkan pengangguran dan kemiskinan yang mengancam stabilitas sosial dan keamanan.

Dalam laporan di situs IRIN (Integrated Regional Information Networks) milik UN Office for the Coordination of Humanitarian Affairs, Oktober 2006, terungkap bahwa sejak 2003, angka kemiskinan di Irak meningkat hingga 35% dan mengakibatkan sedikitnya 5,6 juta rakyat Irak hidup di bawah garis kemiskinan. Sedangkan angka pengangguran mencapai 60% dan tingkat inflasi membumbung tinggi hingga 70% antara Juli 2005 dan Juli 2006.

Irak yang diharapkan menjadi contoh negara demokratis di Timur Tengah malah memberikan gambaran buruk tentang demokrasi yang dibangun melalui kekuatan senjata. Apa yang kita saksikan adalah episode terburuk dalam sejarah Irak, negeri yang penuh keagungan di masa lampau. Kebijakan Gedung Putih atas Irak saat ini memang terkesan tidak mempedulikan pendapat-pendapat lain, seperti Iraq Study Group (ISG) dan opini publik dunia maupun AS sendiri.

Dalam laporan final ISG, panel yang dibentuk Kongres untuk mengevaluasi kebijakan perang melawan terorisme, pada 6 Desember 2006, disebutkan beberapa hal pokok, di antaranya peran tentara AS di Irak dibatasi hingga 2008, mengadakan kontak dengan Iran dan Suriah untuk meredakan kekerasan di Irak, dan pembauran kembali atau rekonsiliasi dengan seluruh kelompok masyarakat,termasuk dengan mantan orang-orang era Presiden Saddam Hussein. Tidak ada satu pun rekomendasi ISG yang dijalankan. Sedangkan publik AS secara umum kecewa dengan perkembangan yang terjadi di Irak.

Perang Melawan Terorisme

Pasca peristiwa 11 September 2001, terorisme menjadi isu utama kebijakan luar AS. Dengan demikian, terorisme menjadi masalah global. Invasi AS terhadap Irak pada Maret 2003, salah satunya, tidak dapat dilepaskan dari strategi global war on terrorism. Invasi didasarkan atas informasi yang mengatakan bahwa Irak memiliki senjata pemusnah massal. Selain itu,Washington juga menuduh Irak menjadi tempat pelatihan sekaligus homebase kelompok teroris internasional.

Kedua tuduhan tersebut pada akhirnya tidak terbukti.Meskipun demikian, nasi telah menjadi bubur. Militer AS telah masuk dan menduduki Negeri Seribu Satu Malam tersebut. Dari kepentingan strategis,Washington melihat Irak sebagai taruhan kebijakan global war on terrorism sekaligus reputasi AS di dunia internasional. Kubu ultranasionalis dan hawkist, yang menggulirkan kampanye Perang Melawan Terorisme, tidak dapat begitu saja menarik tentara AS dari Irak.

Irak merupakan simbol perang melawan terorisme. Lebih dari itu, Irak menjadi simbol keteguhan hati dan konsistensi hawkist melawan apa yang disebut sebagai musuh-musuh AS meskipun harus dibayar dengan harga yang teramat mahal. Sejak Maret 2003 hingga Januari 2007, lebih dari 3000 tentara AS tewas. Angka tersebut merupakan yang terbesar yang pernah dialami militer AS pasca Perang Vietnam. Sedangkan biaya perang yang harus dikeluarkan mencapai USD6 miliar per bulan.

Jika AS kalah di Irak,kelompok teroris akan bertepuk dada dan rival politik AS akan meloncat kegirangan. Lebih jauh lagi, kekalahan di Irak akan semakin memperburuk reputasi AS yang semakin terjun bebas akibat skandal Abu Ghraib, penjara rahasia CIA di Eropa, dan penjara Guantanamo. Di sisi lain, meningkatnya tensi kekerasan di Irak tidak hanya menjadi ancaman bagi stabilitas regional Timur Tengah dan dunia, tetapi juga kontradiktif terhadap kebijakan global war on terrorism.

Muncul berbagai kelompok yang merasa termarginalisasi kepentingannya serta tidak puas terhadap kondisi Irak dan Timur Tengah pada umumnya. Akibatnya,muncul sentimen negatif terhadap negeri adidaya dan sekutusekutunya. Empat tahun pascainvasi, aksi terorisme tidak pernah berhenti bahkan semakin meningkat, baik dari segi kualitas maupun kuantitas. Misalnya pengeboman di depan kedubes Australia di Jakarta September 2004, pengeboman kereta api di Madrid Maret 2004,peledakan bus umun di London Juli 2005, dan tempat lainnya di dunia. Singkatnya, dunia menjadi semakin tidak aman.

Solusi

Keinginan Presiden Bush untuk mengirim 20 ribu tentara tambahan menimbulkan tanda tanya besar. Penambahan pasukan akan bertentangan dengan keinginan publik AS maupun dunia. Alih-alih mewujudkan perdamaian, penambahan pasukan asing dapat menjadi amunisi baru bagi kelompok perlawanan untuk semakin meningkatkan serangan. Pasukan asing di Irak menjadi simbol perampasan kedaulatan rakyat dan integritas nasional Irak.

Sejak usulan penambahan pasukan mengemuka, kekerasan semakin bertambah.Ayman al-Zawahiri,tokoh Al Qaeda,memperingatkan bahwa penambahan pasukan tersebut hanya akan menambah korban di kalangan AS sendiri. Di sisi lain,belum mundurnya tentara asing dari Irak,yang mencapai lebih dari 100 ribu orang, semakin membuktikan bahwa Irak tidak memiliki kapabilitas yang memadai untuk melindungi dirinya sendiri sekaligus menjadi bukti kegagalan militer AS membentuk pasukan nasional Irak yang kuat.

Tiadanya pemerintahan dan pasukan nasional Irak yang kuat serta didukung semua kalangan membuat warga sipil menjadi pihak yang paling sengsara. Hingga November 2006, kementerian kesehatan Irak menaksir korban jiwa mencapai 100 ribu hingga 150 ribu orang.Sedangkan jurnal medis The Lancet menyebut angka korban mencapai 655 ribu orang pascainvasi tahun 2003. Pembubaran secara tergesagesa pasukan Irak menyusul jatuhnya rezim Saddam Hussein menjadi bumerang mematikan. Keadaan vacuum of security pascapembubaran tersebut berhasil dimanfaatkan kelompok perlawanan untuk mengonsolidasikan kekuatannya.

Penyelesaian konflik Irak seharusnya tidak melalui penambahan pasukan atau menomorsatukan aksi militer. Penyelesaian kekerasan dengan cara kekerasan dapat melahirkan kekerasan baru. Ada baiknya, cara-cara persuasif dikedepankan. Meskipun akan banyak memakan waktu dan tenaga, cara-cara pasifis dapat memberikan kedamaian bagi penduduk Irak. Bagi kelompok hawkist maupun penggila perang, sekarang merupakan saat yang tepat untuk berhenti menggunakan Irak sebagai permainan politik. Seratus ribu lebih nyawa penduduk sipil yang melayang menjadi gambaran begitu murahnya harga sebuah nyawa di negeri Abu Nawas tersebut. Meskipun Kongres maupun publik internasional menolak penambahan pasukan, keputusan tetap ada di tangan Presiden Bush. Jika aksi militer tetap menjadi pilihan utama,api tidak akan pernah padam di Irak. *** (Dedy Djamaluddin Malik, Anggota Komisi I DPR RI – Bidang Hankam, Informasi dan Luar Negri – dipublikasikan atas ijin penulis oleh M. Istiqlal / Mahasiswa Ilmu Komunikasi STIKOM-Bandung)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: