Tarikh : Keajaiban2 Nabi Muhammad SAW Semasa Kecil

Oktober 13, 2009

SAWSebuah tangis bayi yang baru lahir terdengar dari sebuah rumah di kampung Bani Hasyim di Makkah pada 12 Rabi’ul Awwal 571 M. Bayi itu lahir dari rahim Aminah dan langsung dibopong seorang “bidan” yang bernama Syifa’, ibunda sahabat Abdurrahman bin Auf. “Bayimu laki-laki!”. Aminah tersenyum lega. Tetapi seketika ia teringat kepada mendiang suaminya, Abdullah bin Abdul Muthalib, yang telah meninggal enam bulan sebelumnya. Ya, bayi yang kemudian oleh kakeknya diberi nama Muhammad (Yang Terpuji) itu lahir dalam keadaan yatim. Ayahnya meninggal di Yatsrib ketika beliau berusia tiga bulan dalam kandungan ibundanya.

Kelahiran yang yatim ini dituturkan dalam Al-Quran, “Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungimu?” — QS Adh-Dhuha (93): 6.

Aminah, janda beranak satu itu, hidup miskin. Suaminya hanya meninggalkan sebuah rumah dan seorang budak, Barakah Al-Habsyiyah (Ummu Aiman). Sementara sudah menjadi kebiasaan bangsawan Arab waktu itu, bayi yang dilahirkan disusukan kepada wanita lain. Khususnya kepada wanita dusun, supaya hidup di alam yang segar dan mempelajari bahasa Arab yang baku.

Ada hadits yang mengatakan, kebakuan bahasa warga Arab yang dusun lebih terjaga. Menunggu jasa wanita yang menyusui, Aminah menyusui sendiri Muhammad kecil selama tiga hari. Lalu dilanjutkan oleh Tsuwaibah, budak Abu Lahab, paman Nabi Muhammad, yang langsung dimerdekakan karena menyampaikan kabar gembira atas kelahiran Nabi, sebagai ungkapan rasa senang Abu Lahab.

Air Susu yang Melimpah

Beberapa hari kemudian, datanglah kafilah dari dusun Bani Sa’ad, dusun yang jauh dari kota Makkah. Mereka menaiki unta dan keledai. Di antara mereka ada sepasang suami-istri, Harits bin Abdul Uzza dan Halimah As-Sa’diyah. Harits menaiki unta betina tua renta dan Halimah menaiki keledai yang kurus kering. Keduanya sudah memacu kendaraannya melaju, tetapi tetap saja tertinggal dari teman-temannya.

Halimah dan wanita lainnya yang datang ke Makkah sedang mencari kerja memberi jasa menyusui bayi bangsawan Arab yang kaya. Sebagaimana dalam kehidupan modern, baby sitter akan mendapatkan bayaran yang tinggi bila dapat mengasuh bayi dari keluarga kaya.

Sampai di kota Makkah, Halimah menjadi cemas, sebab beberapa wanita Bani Sa’ad yang tiba lebih dulu sedang ancang-ancang mudik karena sudah berhasil membawa bayi asuh mereka.

Setelah ia ke sana-kemari, akhirnya ada juga seorang ibu, yaitu Aminah, yang menawarkan bayinya untuk disusui. Namun ketika mengetahui keadaan ibu muda yang miskin itu, Halimah langsung menampik.

Dia dan suaminya berkeliling kota Makkah, tetapi tidak ada satu pun ibu yang menyerahkan bayinya kepadanya untuk disusui. Ya, bagaimana mereka percaya, seorang ibu kurus yang naik keledai kurus pula akan mengasuh dengan baik bayi mereka?

Hampir saja Halimah putus asa, ditambah lagi suaminya sudah mengajaknya pulang meski tidak membawa bayi asuh. Namun, ia berkata kepada suaminya, “Aku tidak ingin pulang dengan tangan kosong. Alangkah baiknya kalau kita mau mengambil anak yatim itu sambil berniat menolong.”

“Baiklah, kita bawa saja anak yatim itu, semoga Allah memberkahi kehidupan kita,” ujar suaminya. Setelah ada kesepakatan tentang harga upah menyusui, Muhammad kecil diberikan kepada Halimah. Wanita kurus kering itu pun mencoba memberikan puting susunya kepada bayi mungil tersebut.

Subhanallah! Kantung susunya membesar, dan kemudian air susu mengalir deras, sehingga sang bayi mengisapnya hingga kenyang. Dia heran, selama ini susunya sendiri sering kurang untuk diberikan kepada bayi kandungnya sendiri, tetapi sekarang kok justru berlimpah, sehingga cukup untuk diberikan kepada bayi kandung dan bayi asuhnya?

Berbarengan dengan keanehan yang dialami Halimah, suaminya juga dibuat heran, tak habis pikir, mengapa unta betina tua renta itu pun tiba-tiba kantung susunya membesar, penuh air susu.

Halimah turun dari. keledainya, dan terus memerah susu itu. Dia dan suaminya sudah dalam keadaan lapar dan dahaga. Mereka meminumnya sehingga kenyang dan puas. Semua keajaiban itu membuat mereka yakin, “Anak yatim ini benar-benar membawa berkah yang tak terduga.”

Halimah menaiki dan memacu keledainya. Ajaib! Keledai itu berhasil menyalip kendaraan temannya yang mudik lebih dulu.

“Halimah! Halimah! Alangkah gesit keledaimu. Bagaimana ia mampu melewati gurun pasir dengan cepat sekali, sedangkan waktu berangkat ke Makkah ia amat lamban,” temannya berseru. Halimah sendiri bingung, dan tidak bisa memberikan jawaban kepada teman-temannya.

Sampai di rumah pun, anak-anaknya senang, sebab orangtua mereka pulang lebih awal dari orang sekampungnya. Apalagi kemudian ayah mereka membawa air susu cukup banyak, yang tiada lain air susu unta tua renta yang kurus kering itu.

Dalam sekejap, kehidupan rumah tangga Halimah berubah total. Dan itu menjadi buah bibir di kampungnya. Mereka melihat, keluarga yang tadinya miskin tersebut hidup penuh kedamaian, kegembiraan, dan serba kecukupan.

Domba-domba yang mereka pelihara menjadi gemuk dan semakin banyak air susunya, walaupun rumput di daerah mereka tetap gersang. Keajaiban lagi!

Peternakan domba milik Halimah berkembang pesat, sementara domba-domba milik tetangga mereka tetap saja kurus kering. Padahal rumput yang dimakan sama. Karena itulah, mereka menyuruh anak-anak menggembalakan domba-domba mereka di dekat domba-domba milik Halimah. Namun hasilnya tetap saja sama, domba para tetangga itu tetap kurus kering.

Pembelahan Dada

Muhammad kecil disusui Halimah sekitar dua tahun. Oleh Halimah, bayi itu dikembalikan kepada ibunya, Aminah. Namun ibunya mengharapkan agar Muhammad tetap ikut dirinya, sebab ia khawatir bayi yang sehat dan montok tersebut menjadi terganggu kesehatannya jika hidup di Makkah, yang kering dan kotor.

Maka Muhammad kecil pun dibawa kembali oleh Halimah ke dusun Bani Sa’ad. Bayi itu menjadi balita, dan telah mampu mengikuti saudara-saudaranya menggembala domba. Ingat, hampir semua nabi pernah menjadi penggembala. Muhammad saat itu sudah berusia empat tahun dan dapat berlari-lari lepas di padang rumput gurun pasir. la, bersama Abdullah, anak kandung Halimah, menggembala domba-domba mereka agak jauh dari rumah.

Di siang hari yang terik itu, tiba-tiba datanglah dua orang lelaki berpakaian putih. Mereka membawa Muhammad, yang sedang sendirian, ke tempat yang agak jauh dari tempat penggembalaan. Abdullah pada waktu itu sedang pulang, mengambil bekal untuk dimakan bersama-sama dengan Muhammad, di tempat menggembala, karena mereka lupa membawa bekal.

Ketika Abdullah kembali, Muhammad sudah tidak ada. Seketika itu juga ia menangis dan berteriak-teriak minta tolong sambil berlari pulang ke rumahnya. Halimah dan suaminya pun segera keluar dari rumahnya. Dengan tergopoh-gopoh mereka mencari Muhammad kesana-kemari. Beberapa saat kemudian, mereka mendapatinya sedang duduk termenung seorang diri di pinggir dusun tersebut.

Halimah langsung bertanya kepada Muhammad, “Mengapa engkau sampai berada di sini seorang diri?” Muhammad pun bercerita. “Mula-mula ada dua orang lelaki berpakaian serba putih datang mendekatiku. Salah seorang berkata kepada kawannya, ‘Inilah anaknya.’

Kawannya menyahut, `Ya, inilah dia!’ Sesudah itu, mereka membawaku ke sini. Di sini aku dibaringkan, dan salah seorang di antara mereka memegang tubuhku dengan kuatnya. Dadaku dibedahnya dengan pisau. Setelah itu, mereka mengambil suatu benda hitam dari dalam dadaku dan benda itu lalu dibuang. Aku tidak tahu apakah benda itu dan ke mana mereka membuangnya.

Setelah selesai, mereka pergi dengan segera. Aku pun tidak mengetahui ke mana mereka pergi, dan aku ditinggalkan di sini seorang diri.” Setelah kejadian itu, timbul kecemasan pada diri Halimah dan suaminya, kalau-kalau terjadi sesuatu terhadap si kecil Muhammad. Karena itulah, keduanya menyerahkan dia kembali kepada Ibunda Amina.  Wallahu a’lam. (tp,-).

(Ref. http://iqbal1.wordpress.com)


Data Warga RW 21 PCI 2 Desa Tanimulya

April 25, 2012

Event : Twenty One Go Green

Juli 26, 2010

 


“Twenty One Go Green” di Cipageran

Juli 26, 2010

“Twenty One Go Green” di Cipageran Minggu, 25 Juli 2010 22:11 Author: Administrator

Lebih dari 250 warga Kompleks Puri Cipageran Indah II Desa Tanimulya, Kecamatan Ngamprah, Kabupaten Bandung Barat, mengikuti lomba gerak jalan sekaligus kegiatan penghijauan bertema Twenty One Go Green I/2010, yang dilakukan di lingkungan sekitar dan berakhir, Minggu (25/7) petang.

Kegiatan tersebut sekaligus kegiatan kampanye cinta lingkungan yang dimotori Karang Taruna RW 21, RW 22, dan RW 18.

Dalam kegiatan tersebut, Kades Tanimulya, Suhaeli, menandai kegiatan penanaman sejumlah bibit pohon pada beberapa titik lahan fasilitas lingkungan di Kompleks Puri Cipageran Indah II di RW 21. Kegiatan kemudian dilakukan pelatihan keterampilan bermanfaat bagi karang taruna setempat.

Panpel dari ART Organizer, Aweng, Alex, Imonx, dan Eci, menyebutkan, kegiatan ini dirasakan sukses karena sangat banyak warga mendukung. Banyak harapan kegiatan semakin diarahkan kepada hal-hal positif, terutama untuk menanamkan sikap cinta lingkungan yang dimiliki sejak usia muda. (***)

Sumber : HU. Pikiran Rakyat, 25/07/2010


Bewara : Bakti Sosial dg Khitanan Masal

Juni 3, 2010


Maulid : Pemimpin Yang Rendah Hati

Maret 20, 2010

Suatu ketika seorang laki-laki menghadap Nabi Muhammad SAW dan gemetaran –oleh wibawa beliau– saat berbicara. Nabi SAW pun berkata menenangkan: “Tenang saja! Aku bukan raja. Aku hanyalah anaknya perempuan Qureisy yang biasa makan ikan asin.” (Dalam hadisnya, menggunakan kata qadiid yang maknanya dendeng, makanan sederhana di Arab. Saya terjemahkan dengan ikan asin yang merupakan makanan sederhana di Indonesia). ***

Ketika Rasulullah SAW datang di Mekkah, setelah sekian lama hijrah, sahabat Abu Bakar Siddiq r.a. sowan bersama ayahandanya, Utsman yang lebih terkenal dengan julukan Abu Quhaafah. Melihat sahabat karib sekaligus mertuanya bersama ayahandanya itu, Rasulullah SAW pun bersabda “Wahai Abu Bakar, mengapa Sampeyan merepotkan orang tua? Mengapa tidak menunggu aku yang sowan beliau di kediamannya?” ***

Sahabat Abdurrahman Ibn Shakhr yang lebih dikenal dengan Abu Hurairah r.a. bercerita: “Suatu ketika aku masuk pasar bersama Rasulullah SAW. Rasulullah berhenti, membeli celana dalam dan berkata : ‘Pilihkan yang baik lho!’ (Terjemahan dari aslinya: Rasulullah bersabda kepada si tukang timbang, ‘Timbang dan murahin – bahasa Jawa : sing anget—‘. Boleh jadi waktu itu, beli celana pun ditimbang). Mendengar suara Rasulullah SAW, si pedagang celana pun melompat mencium tangan beliau. Rasulullah menarik tangan beliau sambil bersabda : ‘Itu tindakan orang-orang asing terhadap raja mereka. Aku bukan raja. Aku hanyalah laki-laki biasa seperti kamu.’ Kemudian beliau ambil celana yang sudah beliau beli. Aku berniat akan membawakannya, tapi beliau buru-buru bersabda : ‘Pemilik barang lebih berhak membawa barangnya.’” ***

Itu beberapa cuplikan yang saya terjemahkan secara bebas dari kitab Nihayaayat al-Arab-nya Syeikh Syihabuddin Ahmad Ibn Abdul Wahhab An-Nuweiry (677-733 H) jilid ke 18 hal 262-263. Saya nukilkan cuplikan-cuplikan kecil itu untuk berbagi kesan dengan Anda. Soalnya saya sendiri, saat membacanya, mendapat gambaran betapa biasa dan rendah hatinya pemimpin agung kita Nabi Muhammad SAW.

Dalam kitab itu juga disebutkan bahwa Rasulullah SAW sering naik atau membonceng kendaraan paling sederhana saat itu ; yaitu keledai. Rasulullah SAW suka menyambangi dan duduk bercengkerama dengan orang-orang fakir-miskin. Menurut istri terkasih beliau, sayyidatina ‘Aisyah r.a dan cucu kesayangan beliau Hasan Ibn Ali r.a, Rasulullah SAW mengerjakan pekerjaan rumah ; membersihkan dan menambal sendiri pakaiannya ; memerah susu kambingnya ; menjahit terompahnya yang putus ; menyapu dan membuang sampah ; memberi makan ternak ; ikut membantu sang istri mengaduk adonan roti ; dan makan bersama-sama pelayan.

Sikap dan gaya hidup sederhana sebagaimana hamba biasa itu agaknya memang merupakan pilihan Rasulullah SAW sejak awal. Karena itu dan tentu saja juga karena kekuatan pribadi beliau, bahkan kebesaran beliau sebagai pemimpin agama maupun pemimpin Negara pun tidak mampu mengubah sikap dan gaya hidup sederhana beliau.

Bandingkan misalnya, dengan kawan kita yang baru menjadi kepala desa saja sudah merasa lain ; atau ikhwan kita yang baru menjadi pimpinan majlis taklim saja sudah merasa beda dengan orang lain. Memang tidak mudah untuk bersikap biasa ; terutama bagi mereka yang terlalu ingin menjadi luar biasa atau mereka yang tidak tahan dengan ‘keluarbiasaan’. Apalagi sering kali masyarakat juga ikut ‘membantu’ mempersulit orang istimewa untuk bersikap biasa. Orang yang semula biasa dan sederhana; ketika nasib baik mengistimewakannya menjadi pemimpin, misalnya, atau tokoh berilmu atau berada atau berpangkat atau terkenal, biasanya masyarakat di sekelilingnya pun mengelu-elukannya sedemikian rupa, sehingga yang bersangkutan terlena dan menjadi tidak istimewa.

Keistimewaan orang istimewa terutama terletak pada kekuatannya untuk tidak terlena dan terpengaruh oleh keistimewaannya itu. Keistimewaan khalifah Allah terutama terletak pada kekuatannya untuk tidak terlena dan terpengaruh oleh kekhalifahannya, mampu menjaga tetap menjadi hamba Allah.

Keistimewaan Nabi Muhammad SAW sebagai pemimpin antara lain karena beliau tidak terlena dan terpengaruh oleh keistimewaannya sendiri. Kita pun kemudian menyebutnya sebagai pemimpin yang rendah hati. Nabi Muhammad SAW adalah contoh paling baik dari seorang hamba Allah yang menjadi khalifahNya. Beliau sangat istimewa justru karena sikap kehambaannya sedikit pun tidak menjadi luntur oleh keistimewaannya sebagai khalifah Allah.

Selawat dan salam bagimu, ya Rasulallah, kami rindu! *** (tp)


Opini : Etika Dalam Jejaring Sosial

Januari 12, 2010

Oleh : Iqbal Istiqlal

(Tulisan ini telah Muat di Harian Umum “Radar Bandung”, pada halaman Opini, Kamis 31 Desember 2009).

Konflik hangat yang menyita banyak perhatian mengenai pernyataan isi hati di dunia maya kembali terjadi. Berita yang tengah di gembor-gemborkan di media saat ini adalah kasus Luna Maya yang dianggap telah mencemarkan nama baik wartawan Infotainment. Sejumlah nama lain dari kalangan artis juga pernah mengalami perseteruan dengan para kuli tinta tersebut. Sebut saja Tora Sudiro dan Parto Patrio yang aksinya pernah menggegerkan kanca dunia infotainment.

Kondisi fisik yang lelah karena bermain sinetron atau manggung di sejumlah daerah memang tidak jarang membuat para artis naik pitam. Belum lagi berita-berita miring bersifat pribadi yang mengemuka tanpa sepengetahuan dan klarifikasi dari mereka. Hal ini juga yang diduga menjadi pemicu kekesalan kekasih Ariel itu, sehingga ia memuntahkannya di sebuah akes jejaring sosial.

Padahal sebelumnya ada beberapa kasus yang terkait dengan aktivitas di dunia maya. Azhari bersaudara, Sarah dan Rahma Azhari pernah jadi korban dunia maya. Beberapa foto vulgar mereka pernah beredar di sejumlah situs.

Prita Mulyasari bahkan sempat merasakan dinginnya lantai ruang penjara akibat aktivitasnya di dunia maya. RS Omni Internasional melaporkan Prita karena mengeluhkan layanan rumah sakit ini dalam layanan situs internet. Akibat layanan ini, Prita sempat ditahan selama 21 hari, dia juga diharuskan membayar ganti rugi sebesar Rp 204 juta.

Lain Prita, lain juga halnya dengan masalah yang dialami oleh Evan Brimob. Curhat on line-nya dikecam banyak pihak. Evan yang seorang Bintara di satuan Brimob Polda Sumatra Selatan menceritakan kegusarannya di situs facebook. Akibatnya, Evan menjadi sasaran hujatan pengguna facebook simpatisan KPK.

Kelebihan Internet

Internet telah mengambil peran revolusi komunikasi yang kian kompleks. Ia telah mampu mengatasi ruang dan waktu proses penyebaran informasi di dunia ini. Apalagi internet kemudian diintegrasikan dengan media massa lain seperti televisi, radio, dan media cetak, bahkan media massa selain internet itu pada akhirnya membutuhkan internet sebagai alat penyebaran informasi pula.

Mencurahkan isi hati lewat situs ini memang sedang trend. Akan tetapi, harus pula disadari bahwa apapun yang dimuat bisa disaksikan oleh pengguna situs di seluruh dunia. Terlebih undang-undang informasi dan transaksi elektronik pasal 22 ayat 3 memungkinkan mereka yang merasa nama baiknya tercemar akibat berita seseorang di dunia maya, bisa dikenakan pasal ini.

Sementara itu, pengguna internet di Indonesia, http://www.internetwordstar.com menyebutkan pertumbuhan pengguna internet berkisar 1000 persen selama 10 tahun terakhir. Tahun 2008, total pengguna internet mencapai 25 juta. Jumlah ini sesungguhnya masih terbilang kecil jika dibandingkan dengan total penduduk Indonesia yang mencapai 237,8 juta jiwa atau berkisar 10 persen.

Prilaku di Dunia Maya

Kata orang bijak, ucapan dan perbuatan mencerminkan pikiran si pengucap. Kotor ucapannya, maka seperti itulah pikirannya. Jika para bloger atau pengguna jejaring sosial ini ingin menggunakan fasilitas internet, sebaiknya mereka terlebih dahulu memahami etika, etiket dan norma ketika menggunakannya. Karena ketiga hal itu secara konvensional dapat mengatasi masalah perbuatan atau tingkah laku manusia, mana yang dapat dinilai baik dan mana yang jahat.

Sebagaimana telah diketahui bersama bahwa perkembangan teknologi komunikasi hususnya di bidang internet berdampak pada pemupukan sifat individu. Perkembangan tersebut akan membawa masyarakat ke dalam koridor pluralitas, padahal kodrat manusia sesungguhnya mahluk sosial. Tanpa adanya etika, etiket dan norma manusia tidak akan mempunyai ‘pegangan’ hidup bermasyarakat dan dikhawatirkan menjadi ‘pemangsa’ bagi sesamanya.

Bagi para bloger atau facebooker serta pengguna situs internet lain, sebaiknya memperhatikan etika berprilaku baik dalam berselancar di dunia maya. Etika berprilaku buruk di dunia maya tak hanya beresiko mengundang sanksi pidana atau perdata di dunia nyata, seperti dijauhi atau dihapus pertemanannya.*** (Iqbal1)


program pengasapan(poging)

Desember 18, 2009

Dikarenakan ada beberapa warga RW 21 yang terkena Demam Berdarah. maka dengan ini kami akan melaksanakan poging pada hari Sabtu 7 Oktober 2009 pukul 8.30 s/d selesai.

Oleh karena itu di mohon kepada seluruh ketua RT 01 s/d 06 untuk memberikan informasi kepada warganya ; atau kepada mereka yang membaca pengumuman ini agar di sebar luaskan.

Terimakasih.