Wisata Warga 21 ; “Tour ke Taman Buah Mekarsari”

April 29, 2009

bis-wisata2Menyongsong berakhirnya masa bhakti kepengurusan RW-21 periode 2006-2009, pengurus PKK Anggrek RW-21 mempunyai prakarsa untuk mengadakan rekreasi keluarga ke beberapa tempat, dengan tujuan utama “Taman Wisata Nuansa Buah Mekarsari” (Mekarsari Amazing Tourism Park) – Cileungsi, Bogor, dan sekitarnya :

  • Hari / Tanggal : Minggu, 03 Mei 2009
  • Kendaraan : Bus Parawisata Full A/C (PO Pudja / Kramat Djati)
  • Kapasitas Peserta : 60 Seats
  • Peserta : Ibu-ibu pengurus PKK, Posyandu, Para Pengurus RT/RW, Warga.
  • Biaya : @ Rp.40.000,- / seat/Orang. (Biaya Ticket masuk Utama, Ticket Kereta Keliling, dan 1 x Makan Siang sudah ditanggung Panitia dari dana Subsidi donasi dan Kas PKK).
  • Lain-lain : Ada acara khusus, Outbound, ‘door price’ dan hadiah menarik…

Antusias peserta cukup tinggi. Kapasitas 60 kursi yang sudah disediakan Panitia sudah terisi. Maka untuk warga yang masih berminat, mohon ma’af tidak dapat menambah lagi ; atau tidak menutup kemungkinan dapat membawa kendaraan sendiri dan ikut bergabung dalam rombongan.

Mohon do’a dari semua warga khususnya, semoga ‘Rekreasi Warga-21′  ini selamat di perjalanan, tks.

Majulah Warga 21 ; pererat kebersamaan, silaturahmi dan persaudaraan… 


Tamu Kita : Dedy Djamaluddin Malik, Anggota DPR/MPR Profile Khalayak..

Maret 24, 2009

Sebagai pencerahan, dalam bekerja yang menyangkut pengurusan khalayak, minimal kita harus mempunyai konsep, jaringan, silaturahmi dan abilitas lainnya. Dalam kesempatan ini ada tamu penting yang layak diperkenalkan, seorang tokoh nasional yang menghalayak, yang kiprahnya telah menginspirasi banyak kalangan. Atau sedikit banyak telah memengaruhi tatanan pengelolaan tata negara Kita. Semoga bermanfaat.

kopiah-warna1Pria yang akrab disapa “Kang Dedi” ini kelahiran Bandung, 25 Desember 1957. Beliau berhasil lolos ke Senayan mewakili DP II Kabupaten Bandung Jawa Barat, pada pemilihan Umum 2004 lalu. Bagi Dedy, menjadi anggota DPR merupakan tugas berat. Apalagi, di tengah citra kurang sedap menghinggap lembaga legislatif. Namun anak kedua dari tujuh bersaudara dari KH RA Ma’mun dan Ny. RH Imas Siti Masitoh ini yakin, dengan prinsip hidup “khairunnas anfahum linnas” (sebaik-baiknya manusia adalah yang bisa memberikan manfaat bagi sesamanya). Ia bisa menjalankan tugas sebaik mungkin.

Agaknya, bukan tanpa dasar Dedy berkiprah di DPR. Sejak remaja, SMA, ia sudah aktif di remaja masjid atau Tarka dan BKTK di kawasan kumuh Bandung Barat, tempat kelahiannya. Ketika masuk Fakultas Publisistik Unpad (sekarang Fikom), pada 1977, ia berturut-turut dipercaya sebagai Ketua Angkatan, anggota BPM, hingga Ketua Senat Mahasiswa Fikom Unpad pada 1980. Aktivis yang dulu menolak NKK/BKK ini juga aktif di HMI Cabang Bandung, Badko Jabar dan Ikatan Pers Mahasiswa Indonesia (IPMI) Bandung.

Kemampuannya menulis di media massa sejak mahasiswa, membuat Dedy keluar masuk jadi wartawan di koran lokal seperti Mandate, Forum dan Pikiran Rakyat. Tetapi ketika selesai kuliah, Dedy lebih memilih menjadi Humas dan dosen di Universitas Pasundan, Bandung. Kemudian pindah menjadi dosen dan Pembantu Dekan I Universitas Islam Nusantara sekaligus dosen luar biasa IAIN Sunan Gunung Jati, Bandung dan berbagai PTS lainnya.

Selain mengajar, Dedy juga aktif menulis artikel dan makalah serta menjadi pembicara diskusi dan seminar di Bandung, Jakarta, Yogya, Surabaya dan Makassar. Usai lulus magister (S2) dari Pascasarjana Unpad tahun 1992, Dedy mendirikan Lembaga Pengkajian Penelitian dan Pelatihan Komunikasi (LP3K). Di lembaga ini Dedy banyak menerbitkan buku-buku komunikasi seperti Komunikasi Persuasif, Komunikasi Internasional, Editorial, semua berupa terjemahan.

Kumpulan tulisannya bersama Dr. Yudi Latif dan Idi Subandi Ibrahim, bertajuk Hegemoni Budaya dibukukan penerbit Bantang, Yogya, 1997. Pada tahun yang sama, tesis S2-nya diterbitkan, Zaman Baru Islam Indonesia oleh Penerbit Zaman, Bandung.
Selain aktif menulis dan pembicara, Dedy yang hobby-nya membaca ini, juga aktif di berbagai organisasi profesi. Di Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia (ISKI) misalnya, ia menjabat selaku Wakil Ketua ISKI Pusat; pernah bergabung dalam International Communication Association (ICA), Speech Communication Association (SCA), International Public Rekations Association (IPRA) dan Asian Mass Communication Research and Information Center (AMIC), Singapore.

Pada 1998, Dedy bersama kawan-kawan PWI Jabar mendirikan Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi (Stikom) Bandung. Lembaga yang dirintis sejak 1994 itu, dipimpin sendiri oleh Dedy yang kini menjabat selaku Ketua Stikom Bandung. Ketika pada 2002, Stikom Bandung bekerjasama dengan Disbudpar Jabar mengelola talkshow “Bruk Brak” di TVRI Jabar dan Banten, minat Dedy selaku presenter terhadap seni, budaya, dan pariwisata , makin terbuka. Padahal minat yang selama ini digelutinya adalah politik,komunikasi, pendidikan, sosial, agama dan hubungan internasional.

Masalahnya, mengapa Dedy berubah dari akademisi ke politisi? “Saya ingin memperluas wilayah pengabdian”, jawabnya singkat. Lagi pula, lanjut Dedy, begitu banyak harapan kalangan menengah dan intelektual akan tumbuhnya demokratisasi di Indonesia, namun umumnya mereka hoby politik. Akibatnya, kata Dedy, partai sebagai salah satu pilar demokrasi kurang optimal mengaktualkan fungsi-fungsi lantaran kurang didukung SDM yang memadai. Maka, siapa pun yang ingin menghidupkan demokrasi, kaum intelektual, harus bersedia masuk partai, imbau Dedy meyakinkan.

Ayah berputera dua ini mengaku sudah siap dengan program kerja selama menjadi anggota DPR. Ia misalnya, akan melakukan komunikasi politik yang intens dengan basis-basis konstituen di daerah asal pemilihannya, termasuk kesiapan menerima berbagai keluhan publik di DPR. Sementara di fraksi, Dedy berharap mampu meningkatkan kinerja dan soliditas sesama anggota. Di komisi, ia ingin semakin meningkatkan kompetensinya agar kontributif bagi komisinya.

Selain itu, menjalin hubungan dengan media massa dan kelompok-kelompok masyarakat yang akan menjadi mitra kerjanya, juga sebagai program kerja yang penting. Last but not least, disiplin dan integritas moral sebagai anggota DPR merupakan bagian penting komitmen Dedy. ***
Untuk mengapresiasikan rasa kepedulian, kebersamaan serta tanggung jawab yang besar kepada rakyat, khususnya masyarakat yang ada di Kab. Bandung & Kab. Bandung Barat, Dedy mendirikan sebuah lembaga advokasi dengan nama Dedy Djamaludin Malik center atau lebih dikenal dengan “DDM Center”.

Sesuai dengan motto beliau yaitu “berbuat untuk rakyat”, maka eksistensi lembaga ini lebih difokuskan untuk membantu masyarakat kelas bawah. Ditengah kesibukan menjadi anggota dewan di pusat, Dedy selalu berusaha untuk menyempatkan diri langsung melakukan aksi sosialnya dalam bentuk tindakan nyata ke beberapa daerah. Meskipun lembaga ini baru berjalan kurang lebih 2 tahun, namun ada beberapa agenda program yang telah sukses dilakukan, diantaranya:

PROGRAM KERJA DDM CENTER

Mentargetkan sedikitnya 100.000 anggota berasuransi
Pengobatan Massal ke beberapa daerah di Kab. Bandung
Pelatihan Komunikasi bagi SMU dan umum


Psikologi : Psycho Behavior

Maret 19, 2009

Psycho Behavior
Oleh : Dede Farhan Aulawi

Sahabat…
Dalam banyak kesempatan ketika memberi seminar / pelatihan saya sering ditanya hal – hal yang berkaitan dengan Human Behavior, terutama menyangkut hal – hal empirik yang sering terjadi di lapangan. Baik dalam melakukan analisa kasus di perusahaan, lembaga, bahkan hal yang bersifat individual, contohnya persoalan keluarga.
Apa yang kita lihat atas suatu perilaku tertentu sesungguhnya merupakan output fisik yang terlihat, tapi faktor pendorong perilaku yang sesungguhnya adalah masalah perilaku kejiwaan ( Psycho Behavior ).
Termasuk di dalamnya sikap mental dalam menghadapi stimulus dari luar. Banyak sekali kasus yang bisa terungkap dan terselesaikan dengan pendekatan ini, karena kita diajak menyelesaikan masalah secara komprehensif dan lebih dari sekedar faktor motivasi yang melatarbelakanginya.
Untuk membahas semua materi ini tentu cukup panjang, tapi pada kesempatan
ini saya ingin menulis secara khusus masalah perilaku lelaki (suami)dalam contoh kasus rumah tangga. dalam tulisan sebelumnya saya pernah menulis bahwa “wanita membutuhkan perhatian”, sementara “Lelaki butuh penghargaan / dihargai”. Sikap dasar seperti ini seringkali melatarbelakangi sikap-sikap yang lainnya. Meskipun tentu tidak berlaku bagi semuanya, tapi pada umumnya.
Aspek Kejiwaan suami yang memiliki penghasilan lebih kecil dibandingkan isteri-nya seringkali lebih memiliki jiwa yang super sensitif dibanding sebaliknya. Hal ini bisa dipahami karena seringkali seorang isteri yang penghasilannya lebih besar menjadi “kurang” bisa menghargai suami. Padahal itu merupakan kebutuhan penting bagi suami. Hal – hal yang kecil bias melebar menjadi persoalan yang melebar kemana – mana. Dan akhirnya tampak persoalan semakin memuncak dan membesar.Persoalan lain yang sering muncul adalah ketika kita membawa anggota keluarga untuk tinggal di rumah. Jika kurang komunikasi sebelumnya bias memantik persoalan baru. Ketika isteri mengajak anggota keluarganya, missal adik/kaka/saudara atau bahkan orang tua dalam jangka waktu yang cukup lama tanpa pemberitahuan dan izin suami seringkali menjadi persoalan juga. Mungkin ada orang yang memandang hal itu persoalan kecil dan mudah diselesaikan. Tapi “tidak” bagi orang yang memiliki aspek kejiwaan yang
relatif sensitif. Tabi’at dan kebiasaan yang berbeda dalam keluarga besarpun demikian. Saya pernah menangani sebuah kasus permasalahan pasangan selebriti Indonesia.
Latar belakang suami lahir dan besar dari keluarga berada sehingga memiliki kebiasaan makan di tempat yang nyaman dan hygienis. Sementara sang Istri berlatar belakang dari keluarga kurang beruntung, sehingga memiliki kebiasaan makan yang sederhana tapi dirasa enak. Jadi tidak bicara soal tempat yang nyaman, bersih, dan sehat.
Kebiasaan yang berbeda ini sering terbawa, sampai suatu saat menjadi persoalan ketika sang suami secara spontan berkata :”Kamu ini sudah kaya saja masih memiliki kebiasaan makan ( pecel lele pinggir jalan )di tempat makan jorok seperti ini ya ? dasar mental kampung, sudah lama di kotapun tetap aja kampung”. Mungkin ini soal ucapan spontan yang kurang kontrol dan emosional karena seringkali memiliki selera makan yang berbeda. Hal ini ditangkap oleh seorang isteri sebagai penghinaan yang sangat menyakitkan. Meskipun akhirnya sang suami meminta maaf atas ucapannya tersebut, tetapi kata-kata yang sudah terlanjur meluncur dan menancap langsung ke pusat jantung perasaan tak mudah untuk disembuhkan.sang Isteri berkata, bahwa “sampai kapanpun saya takkan pernah bisa melupakan ucapan penghinaan yang sangat menyakitkan itu”.
Kita sebagai outsider seringkali memandang persoalan itu sepele karena soal selera makan. tapi tidak demikian dengan mereka yang merasakannya. Kenapa ? karena bagi wanita yang dilihat bukan sekedar selera makannya, tapi “suami dipandang tidak memliki perhatian”, sementara si suami berpandangan bahwa ” isteri tidak bias menghargainya dengan mengajak makan di tempat – tempat kotor seperti itu”.
Dan banyak lagi kasus lain yang pernah saya tangani, yang bersumber dari soal ilmu perilaku. Kesimpulan sementara adalah :
1. Pahami sensitifitas perilaku kejiwaan pasangan
2. Mintai izin sebelum membawa anggota keluarga ke rumah untuk menetap.
3. Pelajari tabi’at dan kebiasaan yang berbeda
4. Bangun komunikasi untuk menghindari miss persepsi
Inilah sumbangsih tulisan singkat yang bisa saya sampaikan, mudah-mudahan memberi manfaat.


Renungan : Kembalikan Semua hanya pada-Nya

Maret 19, 2009

Kembalikan Semua hanya pada-Nya
Oleh : Dede Farhan Aulawi

Sahabat…
Dalam diammu, aku mencoba menelusuri
Lorong waktu tak bertepi
…dan mencoba tuk mengerti dan memahami
…apa yang kau rasakan dalam menggapai tujuan

Memang adakalanya kita terombang ambing dalam biduk yang tak pasti
Berlari jauh tanpa arah dan makna
Terhenti sesaat hanya untuk jeda sementara
Tapi selanjutnya kita tersesat kembali di rimba kelelahan

Sahabat…
Dalam diammu ada sebongkah gundah yang ingin kau ungkap
Tapi kau mencoba diam dan tak berterus terang
Kau berusaha menutupi apa yang kau rasakan
Kau berusaha memecahkannya sendiri dengan rasa bimbang
Tapi ketahuilah…
…bahwa bimbangmu telah sampai di sini
…mengetuk pintu dan jendela hati
…merengkuh hangat dalam selimut kehidupan
…tuk bangkitkan sebuah kesadaran yang terdalam

Berhentilah sesaat…
Bersandarlah di tonggak yang kan membimbingmu,
Rasakan hembusan angin yang menerpa sepoi – sepoi
Kau memang sudah tampak cukup lelah…bahkan sangat lelah
Kau butuh seseorang yang bisa kau percaya
Tapi kau masih ragu…
…pada siapa dan harus memulai dari mana ?

Aku hanya bisa tuk mencoba mengerti
…dan menuntunmu dalam meneratas jalan setapak yang kan kau tempuh
…memang tidak banyak jalan yang bisa kutunjukkan
Karena aku hanyalah seberkas cahaya lilin
…yang masih memiliki serpihan cahaya yang tersisa
…yang ingin mengembalikan semua persoalan pada-Nya
…sehingga kita tidak terjebak oleh berbagai ramalan yang menyesatkan
…yang justru menjerumuskan kita ke lembah kegelapan
…bukannya memberi jalan penerang
…malah kita terjebak dan tersesat di tebing jurang yang curam
…akhirnya fikiran dan jiwa terpenjara pada ketakutan yang berlebihan

Ingatlah, bahwa Allah itu bersifat Maha Kasih
Dia sangat mengasihi kita semua
Dan Dia pun mengerti akan persoalan yang kita hadapi
…termasuk sisa energi yang masih kau miliki
Dia Maha Tahu apa yang kau fikirkan dan inginkan
Dia Maha Tahu terhadap setiap bisik hati yang terbersit
Kembalikanlah setiap persoalan pada-Nya
Di samping kita harus terus berupaya menyelesaikannya
Insya Allah ada hasil terbaik untuk kita
Dan do’a ku khusus kupanjatkan untukmu


Rehat : Cerita Kehidupan

Desember 29, 2008

(1)

Inilah Hari Yang Membahagiakan

Ketika Harapan Menjadi Kenyataan

10 Tahun Sudah Kutingalkan Rumah Kontrakan

Berganti Rumah Cicilan

Tak Terasa Semua Beban Itu Sirna

Ketika Cucuran Keringat Sebentar Lagi Berganti Sertifikat Rumah

Anak-Anak Yang Mulai Dewasa

Keteguhan Istri Dalam Susah Dan Senang

Menjadi Pelengkap Kebahagiaan Ini.

Kulihat Kanan Kiri Rumah

Tak Satupun Mereka Membuat Kecewa

Semua Ada Dalam Kebersamaan Dan Kekompakan

Lingkungan Yang Saling Tolong Menolong.

Lihat Slang Air Yang Terbentang Dari Rumah Kerumah

Ketika Satu Rumah Kekeringan

Rumah Yang Lain Membantu

Lihat Ketika Tetangga Sebelah Terkena Musibah

Semua Orang Peduli

Inilah Lingkungan Yang Tak Terlalu Bersahaja

Tapi Cukup Baik Untuk Kehidupan

Puri Cipageran Indah 2 Rw 21

(2)

Puri Cipageran Indah 2 Tempat Tinggalku,

Jauh Dari Hiruk Pikuk Kendaraan Atau Gemuruh Pabrik,

Diapit Dua Gunung Utara Dan Selatan ,

Jalan PANORAMA Adalah Sebuah Nama Yang Lahir Dari Keindahan Wilayah Rw21

Kemudian Kata Imam Ali A.S ;

” Sebelum Engkau Memilih Rumah Yang Engkau Diami, Maka Lihatlah Siapa Yang Akan Jadi Calon Tetanggamu.”

Puri Cipageran Indah 2 RW 21,

Warganya Memiliki Kepedulian Sosial , Kebersamaan Dan Kekeluargaan

Kita Melihat Betapa Pasilitas Lingkungan Yang Serba Ada, Masjid , Madrasah Dan Kantor RW Yang Cukup Megah,

Lapangan Olah Raga Yang Disiapkan Sedemikian Rupa,

Belum Lagi Kegiatan Kemasyarakatan Yang Aktif,

Lihatlah Berbagai Prestasi Kegiatan .

Saat Tergesa-Gesa Ingin Merebus Mie Instan,

Kita Bisa Langsung Ambil Air Dari Kran, Rebuslah.

Betapa Jernih Dan Melimpahnya Air ,

Entah Dimana Lagi Kudapat Tempat Seperti Ini

Sehingga Ku Ingin Rumahku Selamanya.

Wassalam

(By Keluarga Bahagia : Muhammad Jaetun Al-Ghifary)


Rehat : “Capolaga”, Wisata di Panaruban – Subang

Desember 25, 2008

Advertensi : capolaga-gambar-kecil“Capolaga”, sebuah tempat Wisata di Panaruban – Sebelum Ciater, Subang.

Beberapa kali menikmati akhir pekan di Ciater Subang Jawa Barat, rasanya ingin menikmati sesuatu yang baru. Bukan karena bosan berendam di air panas alami atau tracking di kebun teh, tetapi karena yakin sekali, masih banyak sisi lain Subang yang belum saya datangi.Berkuda, atau pun joging tidak menjadi pilihan pagi itu. Dari Ciater, saya berjalan kaki ke Sagala Herang. Seorang tukang ojek memberi tahu lokasi curug (air terjun, red) yang belum terlalu lama dibuka. Lokasinya ada di dalam kawasan kebun teh, terlindung di salah satu sisi bukit.

Rasa penasaran membuat saya mengikuti ajakan ini. Ternyata bukan pilihan yang salah. Perjalanan selama sepuluh menit dipuaskan dengan bentangan tanaman teh di kiri dan kanan jalan. Di tempat ini pula, tujuh ekor elang Jawa (Spizaetus Bartelis) dilepaskan. Tidak ada polusi, dan hanya sesekali motor roda dua yang melintas.

Ketika sampai, portal masuk ke kawasan kebun teh belum dibuka. Jalanan batu menghantarkan kaki ke gemericik air terjun yang bening. Tempatnya sangat sederhana, namun bersih dan sangat alami. Begitu kaki terendam, rasanya nyaman sekali. Terlebih ketika air dari Curug Sinam ini membasahi kepala dan bahu kita. Meski tidak terlalu tinggi, tetapi nyaman sekali rasanya menikmati derasnya air gunung yang jatuh dari ketinggian. Atau sekedar duduk di atas batu besar, merendam kaki di air yang dingin. Buat saya, menemukan air terjun ini sudah seperti menemukan surga kecil, terlebih tidak ada orang lain yang mengusik ketenangan saya menikmati gemericik air.

Ternyata ada surga lain yang tersembunyi di bentangan Tanah Subang ini. Tepatnya di Kampung Panaruban, Desa Cicadas, Kecamatan Sagala Herang, Kabupaten Subang. Tidak sampai lima menit,”pintu surga” itu sudah kelihatan. Di tempat ini saya berjumpa dengan Pak Cece Suhana, pemilik Capolaga Adventure Camp.

Letak geografisnya terhampar di antara Gunung Tangkuban Perahu dan Gunung Burangrang, sehingga sepanjang waktu kesejukan di tempat ini sangat terasakan. Selain hamparan teh, dan kawasan yang nyaman untuk elang Jawa ini juga ada Surili (Presbytis Comata), bunga bangkai (Amarpholus Annurifer) dan jamuju (Dacrycarpus Imbricatus.)

Jaga Keseimbangan

Di lahan seluas 13 hektare, empat hektare yang diantaranya untuk wisata, terdapat empat curug yaitu Curug Sawer, Curug Karembong, Curug Cimuja dan Curug Goa Badak. Jarak dari satu curug ke curug yang lain tidak terlalu jauh. Antara curug yang satu dengan lainnya bisa ditempuh dengan jalan kaki karena jaraknya yang hanya ratusan meter. Curug-curug ini terbentuk dari pertemuan beberapa sungai yang melingkari kawasan wisata ini. Dari aliran Sungai Cimuja, terbentuk air terjun Cimuja, Curug Karembong dan Curug Goa Badak. Dari aliran Sungai Cikoneng terbetuk tiga curug lainnya yaitu Curug Jodo, Curug Lisung dan Curug Sawer. Masing-masing memiliki ketinggian berbeda. Curug Karembong misalnya antara lain dimanfaatkan untuk water theraphy. Meski menjadi kawasan wisata, tetapi Cece Suhana mengatakan, Capolaga Adventure Champ merupakan kawasan rekreasi terbatas.

Penggunaannya disesuaikan dengan keseimbangan alam yang mendukungnya. Selain itu ia menerapkan peraturan tegas agar tidak merusak atau mengotori alam selama aktivitas berlangsung di kawasan tersebut.Keseimbangan ini ia jaga, agar tidak merusak alam, terlebih di seputar daerah aliran sungai yang seperti Sungai Cikoneng, Sungai Cimuja, Sungai Cijulang, Sungai Ciasem yang mampu mengalirkan air dengan debit seribu hingga tiga ribu per detik untuk penduduk sekitar. Selain curug, Anda bisa melakukan outbond, family atau company gathering, adventure sport, tracking, bird watching, tea walk, camping, weekend barbeque party dan melakukan kegiatan fotografi. Bahkan, untuk pengambilan foto prewedding pun, bisa menjadi pilihan yang tepat, karena landscape yang menarik.Kawasan untuk camping yang dibagi dalam beberapa blok mampu menampung lebih dari dua ratus orang. Fasilitas lain yang bisa digunakan yaitu, pesanggrahan, shelter, kolam pancing, kolam mandi alam, lintasan jalan setapak, jembatan, tempat parkir dan toilet yang dibuat ramah lingkungan. Bagi Anda yang sekedar ingin tracking, tiketnya sangat murah. Per orang hanya membayar lima ribu rupiah.

Mudah Dijangkau

Menjangkau Panaruban cukup mudah dilakukan. Dari arah Utara, arah Pamanukan –Subang, masuk ke Kota Subang, Ciater, Sagala Herang dan Anda akan temukan Panaruban. Dari arah Timur, Anda melewati Sumedang, Jalan Cagak, Ciater,Sagala Herang dan panaruban. Sedangkan dari Selatan, melalui Bandung – Lembang, Tangkuban Perahu, Ciater, Sagala Herang dan Panaruban. Untuk arah Barat, arah Jakarta Cikampek, Purwakarta, Wanayasa, Sagala Herang dan segera Anda akan temukan Panaruban.

Dalam jarak tempuh normal, dari Jakarta bisa dicapai dua jam perjalanan, satu jam dari kota Bandung, satu jam dari Kota Purwakarta, 30 menit dari Subang dan Lembang, 15 menit dari Sagala Herang dan sepuluh menit dari Ciater. Ada baiknya, untuk melakukan reservasi untuk melakukan berbagai kegiatan di tempat ini. Pak Cece bisa dihubungi pada nomor telepon +62-260-470941 atau mengirimkan email di capolaga@yahoo.com. Capolaga Adventue Camp merupakan usaha keluarga. Tanah dibelinya sejak 1988. awalnya hanya untuk keluarga dan sahabat keluarganya saja. Tetapi tahun 2003 informasi berkembang dari mulut ke mulut.

Pensiunan TNI AU dengan pangkat terakhir Mayor ini memutuskan tinggal di Panaruban pertengahan tahun 90 an. Ahli mesin ini tahun 1992 juga memasok mesin-mesin untuk pabrik pupuk di daerah tersebut. Ketika listrik belum masuk ke daerah tersebut, ia menjual listrik tenaga turbin pada tahun 1992-1996. Dengan kekuatan 35 KW, listriknya mampu menyala selama enam jam. Meski kemudian usaha itu rugi ketika PLN sudah masuk ke wilayah itu. Kini dalam sebulan, kurang lebih 100 tamu yang datang. Pendapatan dari usaha ini kurang lebih Rp 500.000,00 – Rp 600.000,00. Jumlah ini sangat kurang untuk biaya operasional. Termasuk menggaji 16 karyawannya. Untuk gaji saja paling tidak suami Tati Maryati Suhana tersebut mengeluarkan dana tidak kurang Rp 10 juta.“Niat yang pertama, menolong penduduk sekitar yang tidak mempunyai pekerjaan. Meski belum semua bisa dipekerjakan di tempat ini, tetapi sedikit orang lebih baik daripada tidak melakukan apa-apa sama sekali,” ujar Cece. Berjalan kaki di bentangan jalan yang hening di Capolaga, rasanya menentramkan jiwa. Energi baru pun terkumpul untuk memulai lagi aktivitas di Jakarta.

(Cerita seorang teman, Sumber cerita “halamansatu.net”)