Teladan Kepemimpinan

Oktober 13, 2009

Tp-Kepemimpinan-RW21URUSAN kepemimpinan atau imamah dalam Islam merupakan salah satu kewajiban agama di antara kewajiban lainnya, sebab agama tidak mungkin tegak tanpa memiliki pemimpin. Hal ini erat kaitannya dengan fitrah kejadian manusia, di mana setiap pribadi satu dengan yang lainnya saling membutuhkan hingga melahirkan hubungan interaksi di antara mereka dalam kehidupan bermasyarakat atau bernegara.

Soal pentingnya pemimpin menurut ajaran Islam didasarkan pada sejumlah ayat Al-Quran dan hadis, antara lain disebutkan: “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul-Nya dan orang-orang yang memegang kekuasaan di antara kamu.” (QS. An-Nisa: 59).

Dalam sebuah hadis disebutkan: “Apabila berangkat dalam perjalanan tiga orang maka hendaklah mengangkat salah seorang dari mereka menjadi pemimpin.” (HR. Abu Dawud).

Demikianlah, Allah dan Rasul-Nya telah menegaskan betapa pentingnya keberadaan seorang pemimpin dalam suatu urusan. Bahkan disebutkan tiga orang saja yang akan melaksanakan suatu tugas bersama dan untuk tujuan yang sama, hendaklah mengangkat salah satu di antaranya sebagai pemimpin. Dengan adanya seorang pemimpin, bila terjadi suatu perselisihan pendapat yang tidak bisa dipertemukan lagi, maka keputusannya di tangan seorang pemimpin.

Di hadis yang lain Rasulullah Saw bersabda: “Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap pemimpin itu bertanggung jawab atas yang dipimpinnya.” (HR. Bukhari-Muslim).

Hanya, tingkatan kepemimpinan itu saja yang berbeda. Ada yang memimpin dalam lingkup terkecil seperti keluarga hingga yang paling besar seperti negara. Namun, di level mana pun seseorang memimpin, pasti ingin menjadi pemimpin yang sukses dan ditaati.

Pemimpin yang sukses adalah yang mampu memberikan perubahan yang lebih baik kepada yang dipimpinnya. Perubahan yang dimaksud tidak hanya yang bersentuhan dengan perkara duniawi. Justru yang lebih penting adalah perubahan yang berkaitan dengan urusan ukhrawi. Karenanya, hikmah terbesar disyariatkannya kepemimpinan pada dasarnya ialah menjaga kemaslahatan ukhrawi setiap orang.

Islam lalu mengajarkan tentang prinsip-prinsip kepemimpinan yang islami. Paling tidak ada dua hal penting. Pertama, bertakwa kepada Allah Swt. Ketakwaan seorang pemimpin besar sekali manfaatnya dalam mengayomi masyarakat. Kepemimpinan yang dilandasi dengan dasar takwa akan lahir suatu sistem masyarakat yang tidak mengenal diskriminasi di antara mereka, sebab pemimpin dalam menjalankan kepemimpinannya lebih merupakan sebagai pengabdian kepada masyarakat sekaligus dalam rangka beribadah kepada Allah Swt.

Kedua, menjadikan kepemimpinan sebagai amanah. Dalam Islam sesungguhnya kepemimpinan itu adalah amanah dari Allah Swt, sehingga tidak saja harus dipertanggungjawabkan di dunia tetapi juga di akhirat kelak.

Dalam surat al-An’am 165 dinyatakan: “Dan Dialah yang menjadikankanmu penguasa (pemimpin) bumi dan sebagian kamu ditinggikan Tuhan beberapa derajat dari yang lain karena Tuhan hendak menguji kamu tentang apa yang diberikan-Nya kepada kamu.”

Allah Swt juga berfirman dalam surah An-Nisa` 58: “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya.”

Rasulullah pun sudah menjelaskan: “Sesungguhnya kepemimpinan itu adalah amanat dan pada hari akhirat kepemimpinan itu adalah rasa malu dan penyesalan, kecuali orang yang mengambilnya dengan haq serta melaksanakan tugas kewajibannya.” (HR. Muslim).

Mengingat kepemimpinan itu adalah amanat, maka untuk menduduki jabatan pimpinan haruslah orang yang terpilih dalam suatu forum yang mempunyai kewenangan tunggal dan yang lebih mampu dari yang lainnya, baik dari segi kepribadiannya maupun dari segi kecakapannya. Menurut Islam, sangatlah tidak etis dan tidak bermoral orang yang meminta-minta jabatan atau meminta posisi pimpinan. Rasulullah Saw sangat tidak suka terhadap hal ini, karena pemimpin yang memperoleh posisinya dengan cara semacam itu sangat sulit dipertanggungjawabkan kemungkinan berhasilnya dalam memimpin.

Suatu ketika Rasulullah menasihati sahabat Abu Bakar r.a.: “Hai Abu Bakar, urusan kedudukan itu adalah untuk orang yang tidak menginginkannya, bukan untuk orang-orang yang menonjol-nonjolkan diri dan memburunya. Ia adalah bagi orang yang memandang kecil urusan itu dan bukan bagi orang yang mengulur-ulurkan kepalanya untuk itu.”

Rasulullah memberikan nasihat kepada kita agar dalam memilih seorang pemimpin adalah orang yang ahli dan tepat, sebagaimana sabdanya: “Apabila amanat itu telah disia-siakan, maka tunggulah saat (kehancurannya). Sahabat bertanya: Bagaimana menyia-nyiakannya? Jawab Rasulullah: Apabila suatu jabatan diserahkan kepada orang-orang yang bukan ahlinya, maka tunggulah saat kehancurannya.” (HR. Bukhari).

Lantas, bagaimanakah sikap kita seandainya diberi kesempatan menjadi pemimpin? Ada hal menarik yang patut kita contoh pada diri Abu Bakar r.a ketika diangkat menjadi seorang khalifah menggantikan Rasulullah SAW. Segera setelah dibaiat Abu Bakar berpidato: “Hai umat, aku telah diangkat untuk memerintahmu. Sebenarnya aku terpaksa menerimanya. Aku bukanlah orang yang terpandai dan termulia dari kamu. Bila aku benar dukunglah bersama-sama, tetapi jika aku menyimpang dari tugasku, betulkanlah bersama-sama. Jujur dan lurus adalah amanat, sedang bohong dan dusta adalah penghianatan.

Kaum yang lemah diantara kamu adalah kuat dalam pandanganku hingga haknya diperolehnya. Orang yang kuat dari kalanganmu adalah lemah dihadapanku hingga aku rebut hak itu dari padanya. Perjuangan dan jihad itu sekali-kali janganlah ditinggalkan. Kaum yang meninggalkan jihad itu akan dipukul kehinaan. Patuhlah kepadaku selama aku mematuhi Allah dan Rasul-Nya. Dikala aku mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, kamu tidak wajib patuh lagi kepadaku.”

Selanjutnya dalam kehidupan sehari-hari, Abu Bakar sebagai seorang khalifah atau pemimpin negara, dengan mencontoh Rasulullah Saw, tetap dalam kesederhanaan. Antara Abu Bakar dan rakyat tak ada tabir dan dinding pagar pembatas. Rumahnya boleh dikunjungi setiap waktu dan terbuka bagi rakyat. Ia bisa ditemui di mana saja. Pakaian, makanan, dan penghidupannya sangatlah bersahaja.

Alkisah, suatu hari Abu Bakar keluar ke Pasar Madinah memakai baju dari kulit kambing. Ketika kejadian itu dilihat keluarganya, mereka buru-buru datang kepada Abu Bakar dan berkata: “Hai khalifah, engkau sungguh-sungguh membuat malu kami di mata kaum muhajirin, Anshar, dan orang Arab.” Lalu Abu Bakar menjawab: “Apakah kamu bermaksud agar aku menjadi seorang Raja yang angkuh di zaman Jahiliyah dan angkuh di zaman Islam?”

Ketika Abu Bakar hendak meninggal, ia berkata kepada putrinya Aisyah: “Hai Aisyah, unta yang kita minum susunya, juga bejana tempat kita mencelupkan pakaian, serta baju qathifah yang saya pakai, semuanya hanya dapat kita gunakan selama saya berkuasa. Dan bila aku meninggal, seluruhnya harus dikembalikan kepada Umar.” Maka ketika Abu bakar meninggal, Aisyah mengembalikan semua barang tersebut kepada Umar bin Khaththab.

Kisah yang lainnya, tatkala seorang wanita kampung bernama Unaisar berkata: “Hai Abu Bakar, apakah engkau masih dapat menolong kami memerah susu kambing seperti sebelum menjadi khalifah?” Jawab Abu Bakar: “Insya Allah aku akan tetap bersedia menolong kamu.” Demikianlah sosok Abu Bakar sebagai kepala negara yang telah berhasil menaklukkan dua kerajaan besar (Syiria dan Persia) masih menyediakan waktu untuk memeraskan susu kambing untuk para wanita sekampungnya.

Sekarang, bagaimana dengan kita? Apakah kita juga harus mencontoh apa adanya sikap dan kepribadian Abu Bakar tersebut. Tentu tidak demikian, karena situasi dan kondisi sejarah sangatlah jauh berbeda dengan zaman khalifah Abu Bakar. Namun demikian, paling tidak kita harus mencontoh kesederhanaannya sebagai seorang pemimpin, tak sewenang-wenang, jauh dari gaya hidup mewah, tiada angkuh dan tidak sombong. (tp.-)


Analisis : “Kemenangan Demokrat = Faktor SBY”

April 14, 2009

pemilu-papua1Kemenangan Demokrat = Faktor SBY
Senin, 13 April 2009 | 15:09 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta: Berdasarkan hasil hitung cepat Lembaga Survei Indonesia (LSI), Partai Demokrat (PD) diperkirakan akan memenangi pemilihan umum legislatif dengan perolehan suara sekitar 20,5 persen. Dengan perolehan suara tersebut, PD berhasil melewati dua partai besar yang mendominasi sejumlah pemilu sebelumnya: Partai Golkar dan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan. Perolehan suara PD pada pemilu ini juga amat fenomenal karena naik hampir tiga kali lipat dibandingkan dengan jumlah suara yang didapat pada Pemilu 2004.

Bagaimana menjelaskan kemenangan PD ini dari sisi ekonomi politik di tengah krisis ekonomi yang saat ini sedang menghajar dunia? Hal yang paling mendasar untuk menjelaskan fenomena ini adalah faktor Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). SBY sebagai faktor merujuk pada SBY sebagai presiden dan pengambil kebijakan. Kenapa menjelaskan kemenangan PD mendasarkan diri pada SBY? Ini pertanyaan menantang. Sebagai sebuah partai, PD jelas masih bayi, dan masih terlihat gagap melakukan aktivitas politiknya. Anggota legislatif PD secara umum memiliki pengalaman yang belum cukup dibanding mereka yang berasal dari Golkar ataupun PDIP. Karena itu, menjelaskan kemenangan PD pasti tidak dapat dilakukan dengan mengabaikan figur sentralnya: SBY.

Berdasarkan uji statistik yang dilakukan penulis atas data LSI cukup terlihat bahwa SBY adalah faktor atas kemenangan PD. Dengan menggunakan teknik korelasi cukup terlihat pilihan kepada Demokrat berkorelasi dengan pilihan mereka kepada SBY. Mereka yang memilih SBY akan memilih PD. Ditelisik lebih jauh lagi, pilihan pemilih kepada SBY terkait dengan kinerja SBY sebagai presiden. Korelasi pemilih yang memilih SBY dengan kinerja SBY sebagai presiden dan pengelolaan ekonomi yang diadopsi SBY sangat kuat.

Berdasarkan pernyataan di atas, maka untuk menilai pilihan rakyat dapat dipakai dua indikator untuk menjelaskan kemenangan PD: tingkat kepuasan pemilih atas kinerja SBY dan tingkat kepuasan pemilih atas kinerja ekonomi pemerintahan SBY. Hasil survei LSI sepanjang 2004 hingga Desember 2008 menunjukkan adanya fluktuasi hingga Juni 2008. Namun, memasuki bulan-bulan berikutnya, kecenderungannya meningkat dan mencapai sekitar 69 persen, menembus tingkat psikologis 50 persen. Dari data ini dapat disimpulkan tingkat kepuasan atas kinerja SBY meningkat seiring dengan program-program sosial, politik, dan ekonomi yang dijalankannya. Intinya pemilih puas terhadap program yang dijalankan SBY.

Tingkat kepuasan ekonomi atas pemerintahan SBY angkanya memang tidak terlalu menggembirakan dan berada di bawah 50 persen. Namun, kesenjangan antara pemilih yang mengatakan keadaan ekonomi lebih buruk dan lebih baik selama enam bulan terakhir cenderung berkurang. Itu berarti pemilih mengapresiasi langkah-langkah ekonomi yang diadopsi oleh SBY, terutama untuk mengatasi krisis ekonomi. Program-program bantuan, seperti bantuan langsung tunai, Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri, penurunan harga bahan bakar minyak, dan Bantuan Operasional Sekolah, bagi sebagian besar rakyat mendapatkan apresiasi yang cukup baik dari pemilih. Stimulus ekonomi sekitar Rp 71 triliun juga mendapatkan apresiasi yang baik dari kalangan pelaku ekonomi besar. Besarnya alokasi pengurangan pajak juga amat membantu mereka. Jadi, secara umum, program ekonomi yang diadopsi oleh SBY mendapatkan apresiasi yang baik dari semua lapisan ekonomi yang ada.

Berdasarkan dua indikator di atas dapat dikatakan bahwa pemilih Indonesia sudah mengatakan apa yang mereka inginkan dalam pengelolaan ekonomi: lanjutkan. Dalam setiap pemilu di mana pun di dunia, dua tema yang selalu bertarung adalah perubahan dan kelanjutan. Presiden Barack Obama di Amerika Serikat berhasil mengalahkan John McCain dari Republik karena pemilih Amerika menghendaki adanya perubahan dalam pengelolaan ekonomi. Presiden George W. Bush dianggap oleh pemilih Amerika telah membangkrutkan ekonomi melalui ambisi perang yang menyedot dana, dan lemahnya pengawasan atas institusi keuangan di Wall Street yang membuat Negeri Abang Sam masuk dalam krisis ekonomi serius.

Sedangkan pemilih di Indonesia memilih keberlanjutan program ekonomi yang diadopsi SBY. Cukup terlihat bahwa pada tingkat mikro, ketika SBY berupaya keras menanggulangi krisis ekonomi agar tidak terlalu membuat rakyat menderita, dan pada tingkat makro menjaga agar kegiatan produksi di sini tetap berjalan. Strategi ini diadopsi untuk mencegah terjadinya proses spiraling, yaitu proses ekonomi yang semakin memburuk karena konsumsi domestik berkurang yang menyebabkan kegiatan ekonomi secara menyeluruh semakin mengecil. SBY sadar betul, jika proses ini terjadi, ekonomi berada dalam keadaan bahaya.

Jika ditilik lebih jauh akan dapat dilihat bahwa program ekonomi SBY mentargetkan dua tujuan sekaligus: menjaga daya beli masyarakat yang berpenghasilan rendah dan menjaga agar kegiatan produksi dapat berjalan dengan baik. Program BLT dimaksudkan untuk menjaga daya beli masyarakat berpenghasilan rendah agar mereka mampu meneruskan hidup mereka dan sekaligus menjaga permintaan jika dilihat dari sisi ekonomi makro. Mempertahankan sisi permintaan dapat dilakukan dengan mempertahankan tingkat konsumsi domestik. Harus diakui, selama satu dasawarsa terakhir, tingkat pertumbuhan ekonomi Indonesia dapat dipertahankan karena tingginya tingkat konsumsi domestik.

Pada sisi lainnya pemerintah SBY berupaya keras menjaga daya beli masyarakat dengan mengupayakan angka inflasi yang rendah. Berdasarkan data inflasi bulanan Bank Indonesia, selama setahun terakhir angka inflasi fluktuatif. Pada awal 2008 hingga pertengahan tahun, angka inflasi bergerak di sekitar 10-11 persen. Namun, sejak Oktober 2008, angkanya cenderung menurun dan mulai berada di bawah 10 persen. Penurunan angka inflasi terjadi berturut-turut terjadi sejak November 2008 hingga Maret 2009. Bahkan, pada Maret 2009, inflasi berada pada 7,9 persen. Maka dapat dikatakan upaya pemerintahan SBY menjaga daya beli masyarakat dapat dikatakan cukup berhasil. Walaupun inflasi merupakan indikator ekonomi makro, inflasi akan amat mempengaruhi daya beli masyarakat. Semakin tinggi angka inflasi, semakin banyak uang yang harus dikeluarkan oleh masyarakat untuk membayar barang atau jasa yang dibutuhkannya. Maka menjaga inflasi sama artinya dengan mempertahankan daya beli masyarakat secara umum.

Lantas bagaimana masyarakat menilai masalah utama dalam ekonomi, seperti pengurangan angka kemiskinan dan angka pengangguran serta pembukaan lapangan pekerjaan? Harus diakui penilaian masyarakat atas ketiga program tersebut belum terlalu baik. Namun, pada sisi lainnya, masyarakat mengetahui bahwa ketiga soal tersebut tidak dapat dipecahkan dengan segera, tapi memerlukan waktu yang lama. Hingga saat ini masyarakat menilai SBY sudah berada di jalur yang benar, dan masyarakat sudah menentukan pilihannya: memberikan kesempatan bagi PD (artinya juga SBY) untuk meneruskan program-program ekonominya ke arah yang lebih baik.

(Penulis : Wahyu Prasetyawan, Peneliti senior Lembaga Survei Indonesia dan doktor ekonomi-politik dari Universitas Kyoto, Jepang)


Psikologi : Psycho Behavior

Maret 19, 2009

Psycho Behavior
Oleh : Dede Farhan Aulawi

Sahabat…
Dalam banyak kesempatan ketika memberi seminar / pelatihan saya sering ditanya hal – hal yang berkaitan dengan Human Behavior, terutama menyangkut hal – hal empirik yang sering terjadi di lapangan. Baik dalam melakukan analisa kasus di perusahaan, lembaga, bahkan hal yang bersifat individual, contohnya persoalan keluarga.
Apa yang kita lihat atas suatu perilaku tertentu sesungguhnya merupakan output fisik yang terlihat, tapi faktor pendorong perilaku yang sesungguhnya adalah masalah perilaku kejiwaan ( Psycho Behavior ).
Termasuk di dalamnya sikap mental dalam menghadapi stimulus dari luar. Banyak sekali kasus yang bisa terungkap dan terselesaikan dengan pendekatan ini, karena kita diajak menyelesaikan masalah secara komprehensif dan lebih dari sekedar faktor motivasi yang melatarbelakanginya.
Untuk membahas semua materi ini tentu cukup panjang, tapi pada kesempatan
ini saya ingin menulis secara khusus masalah perilaku lelaki (suami)dalam contoh kasus rumah tangga. dalam tulisan sebelumnya saya pernah menulis bahwa “wanita membutuhkan perhatian”, sementara “Lelaki butuh penghargaan / dihargai”. Sikap dasar seperti ini seringkali melatarbelakangi sikap-sikap yang lainnya. Meskipun tentu tidak berlaku bagi semuanya, tapi pada umumnya.
Aspek Kejiwaan suami yang memiliki penghasilan lebih kecil dibandingkan isteri-nya seringkali lebih memiliki jiwa yang super sensitif dibanding sebaliknya. Hal ini bisa dipahami karena seringkali seorang isteri yang penghasilannya lebih besar menjadi “kurang” bisa menghargai suami. Padahal itu merupakan kebutuhan penting bagi suami. Hal – hal yang kecil bias melebar menjadi persoalan yang melebar kemana – mana. Dan akhirnya tampak persoalan semakin memuncak dan membesar.Persoalan lain yang sering muncul adalah ketika kita membawa anggota keluarga untuk tinggal di rumah. Jika kurang komunikasi sebelumnya bias memantik persoalan baru. Ketika isteri mengajak anggota keluarganya, missal adik/kaka/saudara atau bahkan orang tua dalam jangka waktu yang cukup lama tanpa pemberitahuan dan izin suami seringkali menjadi persoalan juga. Mungkin ada orang yang memandang hal itu persoalan kecil dan mudah diselesaikan. Tapi “tidak” bagi orang yang memiliki aspek kejiwaan yang
relatif sensitif. Tabi’at dan kebiasaan yang berbeda dalam keluarga besarpun demikian. Saya pernah menangani sebuah kasus permasalahan pasangan selebriti Indonesia.
Latar belakang suami lahir dan besar dari keluarga berada sehingga memiliki kebiasaan makan di tempat yang nyaman dan hygienis. Sementara sang Istri berlatar belakang dari keluarga kurang beruntung, sehingga memiliki kebiasaan makan yang sederhana tapi dirasa enak. Jadi tidak bicara soal tempat yang nyaman, bersih, dan sehat.
Kebiasaan yang berbeda ini sering terbawa, sampai suatu saat menjadi persoalan ketika sang suami secara spontan berkata :”Kamu ini sudah kaya saja masih memiliki kebiasaan makan ( pecel lele pinggir jalan )di tempat makan jorok seperti ini ya ? dasar mental kampung, sudah lama di kotapun tetap aja kampung”. Mungkin ini soal ucapan spontan yang kurang kontrol dan emosional karena seringkali memiliki selera makan yang berbeda. Hal ini ditangkap oleh seorang isteri sebagai penghinaan yang sangat menyakitkan. Meskipun akhirnya sang suami meminta maaf atas ucapannya tersebut, tetapi kata-kata yang sudah terlanjur meluncur dan menancap langsung ke pusat jantung perasaan tak mudah untuk disembuhkan.sang Isteri berkata, bahwa “sampai kapanpun saya takkan pernah bisa melupakan ucapan penghinaan yang sangat menyakitkan itu”.
Kita sebagai outsider seringkali memandang persoalan itu sepele karena soal selera makan. tapi tidak demikian dengan mereka yang merasakannya. Kenapa ? karena bagi wanita yang dilihat bukan sekedar selera makannya, tapi “suami dipandang tidak memliki perhatian”, sementara si suami berpandangan bahwa ” isteri tidak bias menghargainya dengan mengajak makan di tempat – tempat kotor seperti itu”.
Dan banyak lagi kasus lain yang pernah saya tangani, yang bersumber dari soal ilmu perilaku. Kesimpulan sementara adalah :
1. Pahami sensitifitas perilaku kejiwaan pasangan
2. Mintai izin sebelum membawa anggota keluarga ke rumah untuk menetap.
3. Pelajari tabi’at dan kebiasaan yang berbeda
4. Bangun komunikasi untuk menghindari miss persepsi
Inilah sumbangsih tulisan singkat yang bisa saya sampaikan, mudah-mudahan memberi manfaat.


Makna Simbolis Hijrah

Desember 26, 2008

Oleh : ASEP SALAHUDIN **

Memasuki bulan Muharam 1430, memori kolektif kita diingatkan tentang kejadian monumental dalam penggalan sejarah umat Islam yaitu peristiwa hijrah Rasulullah saw. Umar bin Khatab, khalifah yang disebut-sebut H.A.R. Gibb dan J.H. Kramers dalam Shoter Encyclopedia of Islam sebagai pembangun imperium Arab legendaris menetapkan hijrah Nabi sebagai awal penanggalan kalender Islam walaupun hijrahnya terjadi pada 27 Safar hingga Rasulullah sampai di Quba pada Senin, 8 Rabiul Awal, dan masuk ke Madinah pada 12 Rabiul Awal/27 September 622 M. Tahun ini hitungan hijriah telah menginjak 1430. Hampir bersamaan dengan peralihan tahun baru Masehi 2009.

Detik-detik hijrah Nabi ditemani kawan setianya Abu Bakar didokumentasikan Alquran, di antaranya dalam Surat 9: 40. Dengan dramatis juga ditulis sejarawan sirah nabawi generasi pertama dalam Sirah Ibnu Ishaq (hal. 221-223), Sirah Ibnu Hisyam (jilid 2: 89-92), Tarikh al-umam Wa al-Muluk at-Thabari (jilid 2: 98-100), at-Thabaqat al-Kubra Ibnu Sa`ad (jilid 1: 175-177), atau Shahih Bukhari (jilid 1 : 552-554).

Wajah Madinah

Hijrahnya Nabi ke Madinah (dahulu Yatsrib) adalah satu pilihan strategis dalam rangka membangun kemungkinan-kemungkinan baru demi tergelarnya nilai-nilai kemanusiaan dan kejujuran ketika masyarakat Mekah dengan pongah mempertontonkan sistem yang zalim, ekonomi dikelola dengan cara-cara primitif, politik berporos pada semangat perkauman, status perempuan dihinakan, dan budaya berjangkar pada landasan yang rapuh materialisme-kebendaan. Hijrah sebagai siasat menghadirkan Islam dalam wajah–istilah Jurgen Habermas–yang rasional dan teleologis bagi komunikasi praksis di ruang publik.

Pilihan Nabi terbukti di kemudian hari bahkan dalam sejarah kenabian tidak ada hijrah yang paling gemilang kecuali hijrah yang dilakukan Muhammad saw. Bagaimana tidak, Islam yang tadinya bergerak di sektor kultural, ketika di Madinah tampil dengan wajah struktural. Islam menjadi agama yang tidak hanya berbicara persoalan privat-ritual namun juga publik-sosial. Muhammad saw. hadir dengan dua sisi yang sangat elok: sebagai nabi sekaligus politisi santun yang telah mampu berpolitik secara etis.

Nabi tak hanya mengajarkan kekhususan ritual, tapi juga memberikan teladan ihwal cara mengelola pemerintahan yang bersih, mengolah keragaman agar tidak liar tetapi menjadi kekuatan positif untuk bersama-sama membangun Madinah yang baik. Piagam Madinah adalah dokumen penting yang merekam jejak-jejak kenegarawanan Nabi. Dalam piagam yang disebut Haikal sebagai “watsiqah siyasiyyah” atau dokumen politik itu diteguhkan, di antaranya (1) menjamin kebebasan beragama; (2) larangan saling mengganggu satu sama lain; (3) harus membantu satu sama lain dalam kehidupan sehari-hari; dan 4) larangan melakukan kejahatan.

Di tangan Nabi saw., terutama lagi di tangan para penggantinya (khulafaur rasyidin) pascahijrah Islam menjadi ikon baru peradaban manusia di tengah peradaban materialis Romawi dan Byzantium. Islam menjadi agama yang penuh daya pikat karena tema yang diangkat tidak hanya menyentuh fitrah kemanusiaan tetapi juga berbasis pada kepentingan masyarakat. Penghormatan hak asasi manusia, kesetaraan, keadilan sosial, pelestarian lingkungan, pembelaan terhadap perempuan, pembebasan kaum tertindas, menjadi tema utama.

Kemenangan Nabi semakin sempurna terutama ketika membebaskan Mekah. Futuh Mekah. Lebih elok lagi dalam peristiwa ini tidak ada darah yang menetes. Nabi dengan mengagumkan memberikan permaafan kepada masyarakat dan tokoh Quraisy yang dahulu meneror bahkan hendak melenyapkan nyawanya. Nabi bersabda, “Kebenaran telah tiba, dan kebatilan telah punah,” sambil melemparkan satu pimpinan arca yang ada di seputar Kabah sebagai simpul khatamnya sistem menindas yang menjebak masyarakat Mekah dalam kehidupan yang banal.

Konteks kekinian

Tentu persoalan hijrah tidak hanya berkaitan dengan masa lalu, tetapi lebih penting dari itu adalah bagaimana setiap kita menjadi bagian dari orang-orang muhajirin dalam konteks mutakhir. Hijrah sekarang tampaknya bukan lagi pilihan melainkan suatu keharusan ketika kita justru dihadapkan pada suasana kebangsaan yang mirip dengan fase kehidupan Mekah prahijrah.

Kita adalah bangsa dengan kekayaan alam yang tidak terhingga, namun penghuninya menjadi masyarakat dengan populasi kemiskinan terbesar di dunia sebagaimana laporan Bank Dunia, negara dengan tingkat korupsi tertinggi, politisinya menjadi–istilah Nietszhe–kerumunan manusia yang lebih mengerikan daripada monster sekalipun.

Memang tidak ada Latta, Uzza, Manat, dan Hubal, namun itu sekarang beralih nama menjadi perut, jabatan, dan kekuasaan, dengan tingkat ketaatan yang tidak kalah dengan masyarakat Mekah kepada Sang Latta. Bukankah atas nama perut dan kekuasaan seseorang kerap menghalalkan segala cara. Sudah barang tentu hijrah tidak mesti bersifat fisik, tetapi hijrah mental yang didefinisikan Ali Syariati sebagai hijrah nalar dan sosial menuju hidup yang lebih baik.

Dalam konteks keislaman yang lebih luas lagi, hijrah sebagai transformasi sosial menjadi suatu keniscayaan tatkala negara-negara Muslim nyaris menjadi kawasan yang tertinggal dalam segala bidang.

Alhasil, sisi penting momentum hijrah yang selalu kita peringati tiap tahun terletak dari sejauh mana spirit hijrah itu mampu mengubah wajah bangsa menjadi lebih berkeadaban. Inilah makna simbolis dibalik hijrah.***

** Penulis, aktif di DMI dan MUI Provinsi Jawa Barat, mahasiswa program doktor Unpad Bandung.

Jum’at, 26 Desember 2008, · PR Online


HARI RAYA BESAR

Desember 22, 2008

Oleh : A. Mustofa Bisri

Idul Adha atau Hari Raya Kurban disebut juga Hari Raya Haji dan Hari Raya Besar. Hari tanggal 10 Dzul Hijjah inilah puncak pelaksanaan ibadah haji, jama’ah haji dari seluruh dunia, setelah wuquf di Arafah dan menginap di Muzdalifah, kemudian melempar jumrah Aqabah dan melaksanakan penyembelihan ternak kurban di Mina. Sementara kaum muslimin yang tidak sedang berhaji, melakukan sembahyang Ied dan menyembelih kurban.

Setiap kali datang Hari Raya Besar, Idul Adha, kita selalu diingatkan kepada kisah nabi Ibrahim dan puteranya, nabi Ismail.

Seperti kita ketahui; lama sekali nabi Ibrahim ingin mempunyai anak. dan baru kesampaian keinginannya itu setelah tua renta. Kita bisa membayangkan betapa bahagia dan senangnya nabi Ibrahim ketika mendapat anugerah seorang anak yang istimewa, cakap, dan alim. Seorang anak yang tidak hanya dapat dijadikan pengisi kekosongan, tapi lebih dari itu dapat dijadikan ‘tangan kanan’ yang selalu mendampingi sang ayah dalam berjuang dan kiprah kemasyarakatannya.

Tapi, bayangkan!, tiba-tiba datang perintah dari Allah agar nabi Ibrahim menyembelih buah putera hatinya itu. Mengenai perintah Tuhannya ini, nabi Ibrahim tanpa sedikit pun keraguan –meski kedengaran mengharukan– bertanya kepada puteranya, “Bagaimana pendapatmu, anakku?” Dan hebatnya, sang putera menjawab dengan tidak kalah mantap, “Ayah, laksanakan saja apa yang diperintahkan kepada ayah. Ayah akan melihat saya insyaAllah termasuk orang-orang yang tabah.”

Apakah yang lebih berharga dari anak dan nyawa sendiri? Sebagai bukti ketaatan dan kecintaannya kepada Tuhannya, nabi Ibrahim bersedia dengan ikhlas mengorbankan anaknya sendiri yang nota bene sudah lama sekali diidamkannya; nabi Ismail bersedia dengan ikhlas mengorbankan nyawanya.

Kemudian, seperti semua sudah tahu, karena ketulusan mereka, sang anak yang sudah pasrah disembelih, diganti dengan seekor domba.

Suatu teladan yang ‘ekstrem’ tentang ketulusan pengorbanan kekasih bagi kekasihnya. Pengorbanan pemuja bagi pujaannya. Pengorbanan dan loyalitas hamba kepada Tuhannya.  Teladan pengorbanan kedua hamba pilihan itu akan semakin tampak ‘ekstrem’ bila kita pandang sekarang. Pengorbanan mereka berdua bukan saja membuktikan betapa luar biasanya kecintaan dan ketaatan mereka kepada Tuhan mereka. Tapi sebelum itu, membuktikan tingkat pengenalan mereka terhadap Tuhan atas nama siapa pengorbanan itu diikhlaskan.

Dimulai dari pengenalan, lalu sayang dan cinta, kemudian ketulusan berkorban. Bila merujuk ungkapan klise, “Tak kenal maka tak sayang”, maka bisa dilanjutkan dengan ungkapan, “Tak sayang maka tak sudi berkorban.”

Orang yang tidak mengenal tanah-air-nya, misalnya, mungkin karena tidak merasa pernah makan dari hasil tanah yang dipijaknya dan merasa tidak pernah meminum airnya, boleh jadi tidak sayang kepada tanah-air-nya itu. Maka jangan bayangkan orang tersebut mau berkorban untuk tanah-air-nya. Merusaknya pun mungkin tidak membuat nuraninya terusik.

Kalau kita kembali kepada kisah nabi Ibrahim dan nabi Ismail yang setiap Idul Adha kita kenang, maka kita bisa mengatakan bahwa pengenalan yang sangat dari mereka berdua terhadap Tuhan merekalah yang membuat mereka sangat menyintai dan memujaNya, sehingga rela berkorban apa saja demi mendapatkan ridhaNya.

Demikianlah; besar-kecilnya kerelaan berkorban tergantung pada besar-kecinya pengenalan dan kecintaan.

Nabi Ibrahim dan nabi Ismail sangat mengenal Allah dan tahu persis apa saja yang membuat Tuhan mereka itu ridha dan apa saja yang membuatNya murka. Maka pengorbanan mereka pun tidak pernah sia-sia. Jadi memang tidak bisa hanya bermodal semangat mendapat ridha Allah, tanpa mengenalNya dan tanpa mengetahui apa saja yang membuatNya ridha dan apa saja yang membuatnya murka. Wallahu a’lam.

Selamat Idul Adha! Selamat Berkurban!


Sejarah : Hari Ibu

Desember 20, 2008

Hari Ibu adalah hari peringatan/perayaan terhadap peran seorang ibu dalam keluarganya, baik untuk suami, anak-anaknya, maupun lingkungan sosialnya.
Peringatan dan perayaan biasanya dilakukan dengan membebas-tugaskankan ibu dari tugas domestik yang sehari-hari dianggap merupakan kewajibannya, seperti memasak, merawat anak, dan urusan rumah tangga lainnya.
Di Indonesia hari ini dirayakan pada tanggal 22 Desember dan ditetapkan sebagai perayaan nasional.
Sejarah Hari Ibu Indonesia diawali dari bertemunya para pejuang wanita dengan mengadakan Konggres Perempuan Indonesia I pada 22-25 Desember 1928 di Yogyakarta, di gedung yang kemudian dikenal sebagai Mandalabhakti Wanitatama di Jalan Adisucipto. Dihadiri sekitar 30 organisasi perempuan dari 12 kota di Jawa dan Sumatera. Hasil dari kongres tersebut salah satunya adalah membentuk Kongres Perempuan yang kini dikenal sebagai Kongres Wanita Indonesia (Kowani).
Organisasi perempuan sendiri sudah ada sejak 1912, diilhami oleh perjuangan para pahlawan wanita abad ke-19 seperti M. Christina Tiahahu, Cut Nya Dien, Cut Mutiah, R.A. Kartini, Walanda Maramis, Dewi Sartika, Nyai Achmad Dahlan, Rangkayo Rasuna Said dan lain-lain.
Peristiwa itu dianggap sebagai salah satu tonggak penting sejarah perjuangan kaum perempuan Indonesia. Pemimpin organisasi perempuan dari berbagai wilayah se-Nusantara berkumpul menyatukan pikiran dan semangat untuk berjuang menuju kemerdekaan dan perbaikan nasib kaum perempuan. Berbagai isu yang saat itu dipikirkan untuk digarap adalah persatuan perempuan Nusantara; pelibatan perempuan dalam perjuangan melawan kemerdekaan; pelibatan perempuan dalam berbagai aspek pembangunan bangsa; perdagangan anak-anak dan kaum perempuan; perbaikan gizi dan kesehatan bagi ibu dan balita; pernikahan usia dini bagi perempuan, dan sebagainya. Tanpa diwarnai gembar-gembor kesetaraan jender, para pejuang perempuan itu melakukan pemikiran kritis dan aneka upaya yang amat penting bagi kemajuan bangsa.
Penetapan tanggal 22 Desember sebagai perayaan Hari Ibu diputuskan dalam Kongres Perempuan Indonesia III pada tahun 1938. Peringatan 25 tahun Hari Ibu pada tahun 1953 dirayakan meriah di tak kurang dari 85 kota Indonesia, mulai dari Meulaboh sampai Ternate.
Presiden Soekarno menetapkan melalui Dekrit Presiden No. 316 tahun 1959 bahwa tanggal 22 Desember adalah Hari Ibu dan dirayakan secara nasional hingga kini.
Misi diperingatinya Hari Ibu pada awalnya lebih untuk mengenang semangat dan perjuangan para perempuan dalam upaya perbaikan kualitas bangsa ini. Dari situ pula tercermin semangat kaum perempuan dari berbagai latar belakang untuk bersatu dan bekerja bersama. Di Solo, misalnya, 25 tahun Hari Ibu dirayakan dengan membuat pasar amal yang hasilnya untuk membiayai Yayasan Kesejahteraan Buruh Wanita dan beasiswa untuk anak-anak perempuan. Pada waktu itu panitia Hari Ibu Solo juga mengadakan rapat umum yang mengeluarkan resolusi meminta pemerintah melakukan pengendalian harga, khususnya bahan-bahan makanan pokok. Pada tahun 1950-an, peringatan Hari Ibu mengambil bentuk pawai dan rapat umum yang menyuarakan kepentingan kaum perempuan secara langsung.
Satu momen penting bagi para wanita adalah untuk pertama kalinya wanita menjadi menteri adalah Maria Ulfah di tahun 1950. Sebelum kemerdekaan Kongres Perempuan ikut terlibat dalam pergerakan internasional dan perjuangan kemerdekaan itu sendiri. Tahun 1973 Kowani menjadi anggota penuh International Council of Women (ICW). ICW berkedudukan sebagai dewan konsultatif kategori satu terhadap Perserikatan Bangsa-bangsa.
Kini, Hari Ibu di Indonesia diperingati untuk mengungkapkan rasa sayang dan terima kasih kepada para ibu, memuji ke-ibu-an para ibu. Berbagai kegiatan pada peringatan itu merupakan kado istimewa, penyuntingan bunga, pesta kejutan bagi para ibu, aneka lomba masak dan berkebaya, atau membebaskan para ibu dari beban kegiatan domestik sehari-hari. (** Ka. RW-21).


Nyawang : “Ngadu Bako”

November 19, 2008

visi-misirev1

Oleh : T. Ahmad Pathoni / Ka. RW-21

Upaya menciptakan lingkungan Warga-21 agar tentram, tertib dan aman ditata secara komprehensip dari seluruh aspek ; agama / idiologi, sosial, ekonomi, budaya, politik, hukum, keamanan dan teknologi. Tidak parsial supaya integral, sistemik dan sinergi. Dan bila ada masalah Kita analisis secara diagnostik, tidak remedial. Diselesaikan mulai dari akar-akarnya. Kita menginginkan adanya masyarakat komunal, saling peduli, tidak individual. Ditilik faktor internal yang menjadi kekuatan dan kelemahannya, serta faktor eksternal yang menjadi kesempatan atau peluang dan ancamannya. Supaya mempunyai strategi yang tepat dalam bertindak, berada di posisi mana Kita berada. Begitulah setidaknya inti kata guru besar Manajemen Strategi dari Program Magister Unpad, Prof. Feisal Afif atau Prof. Kusnaka Adimihardja, ahli antropologi budaya dan sosiologi negeri Kita, atau kata Expert Strategic Planning Prof. Iman Sudirman dan Dr. Ubuh Buchara dari ITB, dan Prof. Komaruddin dari UPI, tokoh-tokoh yang pernah dekat dan menjadi pembimbing penulis.
Tentram (Sakinah) adalah kondisi “ruhaniah” warga yang secara kongkrit dapat mewujudkan ketenangan lahir dan batin. Merasa betah, terformulasikan dalam perilaku yang baik, ahlak terpuji.
Tertib (Tumaninah ; ‘merele metakeunana, ngaheulakeun nu ti heula, mandeurikeun nu pandeuri) adalah terhindarnya perilaku “jasmani” melanggar norma bersama yang formal maupun nonformal, taat pada aturan yang boleh atau terlarang. Patut atau tidak menurut ketentuan.
Aman (Iman, amanah) adalah kepercayaan adanya perlindungan keselamatan jiwa, harta, akal, agama dan keturunan yang terhunjam didalam lubuk kalbu sanubari. Hakekatnya bergantung kepada Ketentuan Sang Pencipta. Syareatnya mesti melalui ihtiar sesama. Penjagaan fisik dan nonfisik dari gangguan pihak lain terhadap tentram dan tertib. Dimulai tarapti dari diri sendiri.
Implementasi satunya fikiran, ucapan dan tindakan ; jabaran dari tentram, tertib dan aman diupayakan terinternalisasi dalam tata kelola Warga-21 yang baik (good governance) melalui konsepsi ‘ngadu bako’.

‘Ngadu bako’ adalah akronim yang penulis buat dari kalimat ‘NGAriung DiUk BAreng jeung KOkolot’, suatu cara komunikasi timbal balik, urun rembug, lesehan, ngampar-samak atau cukup duduk2 dan ’standing’ saja, atau dengan berselancar di dunia maya ini. Mengajak partisipasi warga supaya berdaya, empowerment. Mendapatkan input atau feedback dari seluruh komponen warga atas berbagai hal yang diterapkan pengurus warga (RT/RW) supaya proses mengeluarkan sesuai harapan. Top Down Policy, Bottom-Up Report (Dari atas kebawah, dari bawah ke atas). Mendapatkan perencanaan yang matang, pelaksanaan yang tepat, pengawasan yang ketat. Medianya memang jadi bisa bermacam-macam, yang pasti tujuannya tercapai, ‘caina herang laukna beunang’, transparan dan akuntabel. Suasananya sangat cair dan penuh keakraban-kebersamaan. Warga Kita, mirip representasi Indonesia. Ada yang dari Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Bali, dll dengan berbagai suku, agama, bahasa dan adat istiadatnya. Stratata pendidikan, ekonomi, sosial yang rata-rata sudah mapan dan bervariasi, berbaur dalam kesetaraan Warga-21 yang saling toleran dan menjungjung silaturahmi dan kekeluargaan.

Indonesia Kita ingin menuju kemandirian, keluar dari keterpurukan. Butuh perubahan, senantiasa butuh manusia yang bersumber daya terbaharukan untuk menghadapi persaingan global. Dalam berbagai keterbatasan, Kita butuh inovasi untuk unggul secara kompetitif maupun komparatif. Dikelola secara amanah, untuk adil dan sejahtera mengantarkan kepada masyarakat makmur. Padahal modal dasar sudah melimpah, sumberdaya manusia dan sumberdaya alam yang tiada duanya. Anugrah Maha Pencipta.

Penulis teringat di awal-awal dalam warga Kita. Bagaimana memulai perubahan lingkungan baru Kita secara significant agar sesuai dengan kebutuhan bersama, ruhani-jasmani. Cita-cita masyarakat baru yang akan terdiri dari keluarga sakinah, mawaddah wa rahmah dambaan Kita semua. Kita memulai dengan ihtiar membangun sebuah masjid. Mencontoh hal pertama yang dilakukan Nabi SAW dengan Masjid Quba untuk kemudian menata masyarakat di Yastrib, yang kemudian berubah nama menjadi Madinah Al-Munawwaroh (Kota yang mendapat Cahaya. Al-Munawwaroh ; Segat isim maf’ul, dari wajan faroha. Asal kata dari naarun, yaitu api atau cahaya). Madinah di zaman Nabi SAW menjadi cikal bakal atau salah satu referensi ‘Masyarakat Madani” yang banyak digagas para penganjur perubahan tata kelola negara di bumi pertiwi ini sebagai Civil Society. Tata kelola di Madinah ini direferensikan sebagai zaman yang mendapat peradaban. Bagi Kita, masjid sebagai ibarat ‘ ikan dengan airnya’ yang tak bisa dipisahkan. Dengan ini jadilah ada Al-hikmah masjid Kita itu. Fungsi masjid Kita itu, dalam pendiriannya disiapkan bukan sebagai sarana ibadah mahdoh saja (Sholat saja misalnya), tetapi berfungsi juga sebagai sarana ibadah goer-mahdoh, pendidikan, siyasah, sosial, dakwah, budaya, pemberdayaan ummat, advokasi dhuafa, dan lain-lain fungsi sepanjang tidak bertentangan dengan syara’ untuk membuat perubahan sosial (Social Changes), meningkatkan iman dan taqwa (Spiritual Improvement). . Inilah sebenarnya esensi fungsi masjid. Kenapa Kita namakan Masjid Kita dengan ‘Al-Hikmah’, memang ada ‘asbabun nujulnya’ juga.

Dan Kita rasakan dalam prosesi inilah potensi sumber daya warga Kita benar-benar berdaya. Dalam waktu singkat, di tahun 2000, mengawali abad milenium kedua, masjid Kita dengan arsitektur prima minimalis itu dapat tuntas berfungsi untuk Kita gunakan, dst. Kemudian agar ada yang mengurus (Takmir) dan senantiasa membimbing Kita, jadilah ada DKM serta beberapa forum pengajian bergilir antar rumah di RT-RT. Ingin memiliki induk atas sebuah kedaulatan berwarga, jadilah Rukun Warga-21 dari asal dua RT. Malam-malam Kita tetap keluyuran agar terhindar dari ulah tangan jahil, jadilah ada Siskamling malam dan siang, tenaga pengamanan dengan pos-pos rondanya di tiap RT. Ada yang membuangkan sampah supaya kesehatan terjaga, lingkungan bersih, jadilah subkontrak pengangkutan sampah dengan ‘Pa Enco’. Mengatasi keadaan gelap gulita, Kita sosialisasikan neonisasi, yaitu warga menyediakan penerangan di depan rumahnya untuk jalan. Kita pasang PJU, dll. Ingin memberikan peran kepada ibu-ibu Kita, jadilah PKK Anggrek 21, Poktan, Kader2 dan majlis ta’lim muslimahnya yang cukup proaktif. Kwatir anak-anak Kita dalam pendidikannya, diupayakan majlis ta’lim anak, halaqah atau klasikal, jadi pulalah TK/TPA “Nurul Hikmah”. Kita ihtiarkan pula adanya Madrasah untuk wahana belajarnya dan aula kebutuhan kita beserta pembenahan halamannya. Tidak ketinggalan untuk menyalurkan hoby atau menjaga kesehatan jasmani, jadilah lapang-lapang bulu tangkis, bola volly, putsal, dsb. Bahkan masalah kesulitan tempat pekuburanpun teratasi, pemakaman cijerah bagi Warga-21 beserta layanan pemulasaraannya. Kita peduli saudara kita yang dhua’fa, jadilah kiprah PHBI, tabligh akbar dalam rangka peringatan Maulid Nabi SAW, Isra’ Mi’raj, Nujulul Qur’an, baksos santunan yatim piatu, pembagian sembalo, pengelolan zakat/fitrah, halal bi halal dan qurban yang senantiasa melimpah. Agenda tetap HUT RI berjalan dengan baik tiap tahunnya dengan berbagai ekspresi. Memanfaatkan ‘hal gaib’ informasi teknologi – membangun website di internet serta men-set-up hot-spot nya melalui konsep RT/RW-Net, Dan seterusnya kiprah-kiprah yang lain…. Tak kalah menyita waktu juga, membangun hubungan dengan pemerintahan dan melayani kebutuhan warga ; KK, KTP, SKCK, NA, Raskin, BLTM, Konversi kompor Gas, Vooging, Korpe, Menyelesaikan Konflik, Posyandu, PIN, dsb. Menyelenggarakan TPS pemilu legislatif/presiden/gubernur/bupati/Kades, berhasil dengan baik dijalankan tanpa gejolak. Semuanya berkat kebersamaan kita. Ibaratnya kita sekarang seperti gadis cantik yang dikerling banyak orang. Tak sedikit yang telah menyatakan rasa jatuh cinta kepadanya.

Jadi, tidaklah heran kalau di Warga-21 banyak kegiatan positif yang telah dikerjakan bersama. Ada ladang untuk berlomba menanam kebaikan. Aspek struktural dan kulturalnya. Kinerja atas kiprah ini manis memang. Meski masih sangat banyak hal yang belum tergarap, tantangan tentunya. Kadangpun kepahitan menerpa, ini karena hukum alam yang berpasangan, ada siang ada malam. Mungkin inilah kilas balik ke belakang kiprah kita sejauh ini. ‘Nyawang’ ternyata dapat juga menjadi instrospeksi diri atau muhasabah untuk melihat diri ke belakang, perbaikan ke depan. ‘Sasieureun, sabeunyeureun’ menjadi voluntir, memanfatkan sedikit waktu terluang untuk berbuat bagi kebaikan lingkungan Rukun Warga-21,   ‘Rumah Kita’ bersama. Semoga kiprah tersebut bermanfaat dan sedikit memenuhi harapan baru untuk menata perubahan lingkungan ke arah yang lebih baik dengan berkah yang melimpah tentunya… *** :)


Barack Obama Menangi Pemilihan Presiden

November 7, 2008

obama-anak1Barack Hussein Obama terpilih menjadi presiden Amerika Serikat ke-44 setelah memenangi pertarungan panjang selama 22 bulan masa kampanye. Kemenangan Obama memiliki arti khusus bagi rakyat Amerika, yang berhasil mengatasi rintangan ras. Obama merupakan presiden kulit hitam pertama negeri itu, dan akan secara resmi diambil sumpahnya pada bulan Januari 2009. Dari data terakhir yang masuk, Obama telah memenangkan 338 daerah pemilihan (dari 270 yang dibutuhkan) serta unggul dalam jumlah total suara dibandingkan lawannya, John Mccain, sebanyak 52 % – 47 %. John McCain dalam pidato kekelahannya mengajak rakyat AS mendukung pemerintahan Obama dan mengucapkan selamat atas kemenangan Obama.

Dalam pidato kemenangannya, Obama memberikan pandangan optimis akan masa depan Amerika Serikat ditengah krisis keuangan dan dua perang yang mereka jalani (Irak dan Afganistan), bahwa rakyat Amerika akan bisa bangkit dari keterpurukan dan kemunduran dalam banyak bidang. Obama juga menjanjikan dirinya akan menyatukan perbedaan yang ada dalam masyarakat dan selalu terbuka dalam menjalankan pemerintahannya.

Negara bagian yang dimenangi ObamaVermont, Pennsylvania, Illinois, New Jersey, Massachusetts, Maryland, Connecticut, New Hampshire, Maine, Delaware, DC, New York, Michigan, Wisconsin, Rhode Island, Minnesota, Iowa, Ohio, New Mexico, Virginia,California, Oregon, Washington, Hawaii, Colorado, Florida, Nevada, Indiana, North Carolina.

Negara bagian yang dimenangi McCain: Kentucky, South Carolina, Tennessee, Oklahoma, Arkansas, Alabama, Georgia, North Dakota, Wyoming, Louisiana, West Virginia, Texas, Mississippi, Utah, Kansas, South Dakota, Nebraska, Idaho, Arizona, Alaska, Missouri, Montanan.

Biografi Singkat Barack Obama, Presiden AS ke 44

presidenProses pemilihan presiden di Amerika adalah sebuah drama politik yang melelahkan, lahir dari sejarah 200-an tahun, dan menjadi “buku panduan” bagi pemilihan presiden negara-negara lainnya. Dan hasilnya, mau tak mau diakui, akan berpengaruh bagi hidup banyak warga bangsa lainnya. Namun ada yang membedakan proses tahun ini dibandingkan periode-periode sebelumnya. Tahun ini, pemilihan presiden Amerika Serikat menjadi semakin populer dan ikut diperhatikan oleh banyak orang dari berbagai golongan dan kelas: dari warga anak kecil di Kenya sampai tante-tante di Tegal, dari Hawai sampai Munich . Pemicunya adalah kandidat bernama Barack Obama. Obama bagi banyak golongan adalah simbol sekaligus cermin dan juga fenomena.

Obama adalah manusia abu-abu, lahir dan besar dalam persimpangan budaya yang membuatnya kesulitan mencari jatidiri di awal masa hidupnya. Anak dari seorang Kenya berkulit hitam legam dan ibu Amerika berkulit seputih susu, dibesarkan secara sederhana dalam budaya kulit putih namun memilih untuk mengidentifikasi dirinya sebagai seorang laki-laki kulit hitam. Sejak kecil hanya bermimpi menjadi pemain basket profesional di NBA, dan berlabuh menjadi politisi papan atas. Sebuah biografi yang tak lazim bagi seorang kandidat presiden Amerika (dimana kecurigaan dan luka akibat politik segregasi warna kulit dimasa lalu belumlah sembuh), sekaligus biografi yang menginspirasi banyak orang.

Keabu-abuan ini sempat menjadikan Obama sebagai sasaran tembak lawan politiknya, dari tuduhan Obama adalah muslim, Obama tidak lahir di tanah Amerika sampai Obama adalah sosialis. Namun kejelian Obama dalam memanfaatkan biografi dirinya sebagai bukti kehebatan demokrasi di AS (Obama sering mengungkapkan: “apa yang bisa saya capai hanya bisa terjadi di negara ini, tidak di manapun”), kemampuannya memahami keinginan publik serta memformulasikan mantra perubahan dalam cara berpolitik membuatnya bisa mengarungi kerasnya jagat politik di AS. Muncul sebagai kandidat terpilih dari Partai Demokrat dengan terlebih dahulu merontokkan mesin politik kelas kakap milik dinasti Clinton, setelah pertarungan panjang dan melelahkan selama 8 bulan.

Kampanye melawan kandidat Partai Republik, John McCain, jelas bukan hal yang mudah baginya. McCain adalah figur pahlawan dalam ranah politik AS, seorang veteran perang dari keturunan dinasti pembesar Angkatan laut AS (ayah dan kakek McCain adalah admiral), pernah mendekam dipenjara Vietkong dan menerima siksaan komunis Vietnam selama lima tahun. Obama yang relatif jauh lebih muda (47 tahun, Mc Cain 72 tahun) dan minim pengalaman politik (McCain telah menjadi anggota konggres AS sejak 26 tahun lalu). Namun sekali lagi Barack Obama berhasil melalui tantangan didepannya.

Cara kampanye Obama sejak awal telah mengubah peta dan strategi politik di AS. Kemampuannya mengeksploitasi teknologi dengan memaksimalkan potensi internet dan telepon selular sebagai basis jaringan kampanyenya menjadikannya sebagai kandidat dengan total sumbangan kampanye terbesar sepanjang masa ( 600-an Juta Dolar). Organisasi lapangan yang rapih dan tanpa lelah membuat pemilihan presiden 2008 sebagai pemilihan presiden dengan tingkat partisipasi terbesar yang pernah ada (  %), dan menjadikan daerah yang secara tradisional selalu berpihak pada Partai Republik mengubah haluan. Kemampuannya menampilkan citra pembaharu menginspirasi kaum muda serta menjadikan McCain layaknya tokoh tua yang mulai pikun. Kelihaiannya mengeksploitasi krisis finansial dan kemerosotan ekonomi AS di dunia menjadi senjata yang mematikan yang melumpuhkan John McCain. Pembawaan yang kalem dan matang juga membuat pengalaman dan status pahlawan yang disandang McCain seolah lenyap begitu saja.

Rakyat Amerika telah memilih dan mempercayai seorang presiden kulit hitam pertama dalam sejarah mereka. Barack Obama menjadi presiden ke-44 Amerika Serikat, menjadi pemimpin negara adidaya tunggal yang sedang dirongrong krisis ekonomi dan perang yang tak berkesudahan. Obama mengakhiri kampanye panjangnya selama 22 bulan sebagai pemenang. Seorang tokoh yang lahir dalam persimpangan budaya dunia telah muncul, dan dunia akan menantikan sejauh apa pencapaiannya. (Kata-kata Com).


Krisis Ekonomi Global : Setelah Neoliberalisme, Apa?

Oktober 25, 2008

Oleh M. Kholid Syeirazi (Tenaga Ahli di DPR, Jakarta).

Bermula dari kredit macet sektor perumahan (subprime mortgage), ekonomi Amerika terguncang karena tiba-tiba krisis merambah ke pasar uang. Nilai dolar AS merosot tajam. Saham-saham di Bursa Saham Amerika jatuh bangun bak roller coaster. Jatuhnya valuasi saham di AS memicu penurunan harga saham di seluruh dunia. Para investor panik, khawatir nilai saham mereka akan rontok. Sehingga, mereka cepat-cepat memindahkan asetnya ke bentuk investasi paling aman, yaitu US Treasury-Bills, obligasi pemerintah, dan emas.

Pengalihan investasi ke komoditas tambang dan pertanian membuat harganya melesat tajam sehingga menimbulkan gelombang inflasi. Situasi makin kompleks. Tiba-tiba pasar saham Amerika, simbol agung neoliberalisme, dinaungi awan hitam. Lehman Brothers dan Merrill Lynch mengakui bangkrut.

Sejumlah raksasa korporasi keuangan, lembaga sekuritas, dan penjamin kredit rontok satu per satu, mulai Bear Stearns, Fannie Mae dan Freddie Mac, IndyMac, hingga American International Group (AIG). Pasar saham global ikut-ikutan kolaps. Spiral panic selling menjalar ke mana-mana. Itu terjadi karena pemegang saham asal Negeri Paman Sam secara membabi buta menjual saham mereka.

Koreksi terhadap Liberalisme

Peristiwa tersebut mengingatkan orang pada great depression sekitar 1930-an. Setelah kejadian Kamis kelabu itu, sistem liberalisme -yang mengagungkan pasar ketimbang negara- dikoreksi tajam. Adalah John Maynard Keynes yang menggeledah kesalahan-kesalahan asumsi liberalisme klasik. Pasar yang dibiarkan bebas bergerak tanpa intervensi negara, menurut dia, tidak akan menemukan titik equilibrium-nya.

Keyakinan kaum liberalis bahwa tanpa campur tangan negara pasar dalam jangka panjang akan menciptakan titik keseimbangannya sendiri disanggah Keynes. Menurut dia, in the long run we are all dead (dalam jangka panjang kita semua akan mati). Kita akan mati sebelum pasar dapat mewujudkan hukum keseimbangannya.

Karena itu, sebelum semua orang tergeletak di liang kubur, negara harus bertindak. Caranya, negara harus membuat proyek-proyek yang bisa menyerap tenaga kerja dan menjalankan investasi sosial.

Dari peristiwa great depression, pendulum paradigma ekonomi bergeser, dari liberalisme klasik ke manajemen makroekonomi Keyneysian. Negara-negara yang terpengaruh gagasan Keynes membentuk welfare state di Eropa. Pada 1970-an, seiring dengan membubungnya inflasi, merosotnya pertumbuhan ekonomi, membengkaknya pengangguran, defisit sektor publik, dan krisis minyak, Keynesianisme diserang sebagai biang terjadinya krisis ekonomi.

Adalah Friedrich Von Hayek dan Milton Friedman dari Chicago School yang kembali menghidupkan ajaran-ajaran liberalisme klasik Adam Smith (1723-1790), David Ricardo (1772-1823), dan Herbert Spencer (1820-1903) ke dalam ideologi “kanan baru” (new right). Ideologi tersebut kemudian dikenal sebagai neoliberalisme.

Keberhasilan Hayek dan Friedman dalam mendorong gelombang pengingkaran masal terhadap paradigma Keyneysian telah menganugerahi keduanya hadiah Nobel berturut-turut pada 1974 dan 1976.

Debut neoliberalisme melejit karena ditopang oleh rezim Reagan-Tatcherisme di Amerika dan Inggris. Salah satu revolusi yang dilancarkan dua kampiun neolib tersebut adalah liberalisasi pasar uang yang digalakkan besar-besar sejak 1970-an. Lembaga semacam New York Stock Exchange dan London Stock Exchange kemudian terbentuk di mana-mana.

Dalam tren baru itu, uang bukan lagi sekadar alat untuk menopang transaksi komoditas, melainkan sudah menjadi komoditas itu sendiri. Akibatnya, ketika krisis keuangan terjadi di jantung pasar uang dunia, tidak ada satu pun negara yang kebal krisis.

Krisis telah mengetatkan likuiditas karena dana-dana dari emerging market, yang berupa valuta dolar, dilarikan ke Negeri Paman Sam dan disimpan di US-T Bills. Suasana histeria yang sebagian sengaja diciptakan oleh para pialang saham turut menyumbang dalam terjadinya koreksi tajam indeks di bursa dunia.

Kembalinya Keynesianisme?

Ketika krisis ekonomi Amerika bermula dari krisis pasar uang, secara sangat kebetulan hadiah Nobel Ekonomi 2008 jatuh kepada seorang profesor ekonomi Keynesian, Paul Krugman. Dia adalah profesor ekonomi di Princeton University, AS. Dia dikenal dengan kritik-kritik tajamnya terhadap kebijakan Presiden George W. Bush yang ditudingnya telah membawa rakyat ke arah bencana ekonomi dan kebejatan moral.

Krisis finansial global yang terjadi sekarang, menurut Krugman, disebabkan kita menciptakan sistem keuangan yang tak terkendali. Pada 1999, dalam bukunya yang berjudul The Return of Depression Economics, Krugman meramalkan terjadinya krisis akibat liberalisasi yang tidak terbatas. Dia berkata, “The world economy has turned out to be a much more dangerous place than we imagined.”

Dalam bukunya yang lain, The Great Unraveling (2004), Krugman menyatakan bahwa krisis ekonomi dipicu oleh munculnya ekonomi gelembung (bubbles economy) akibat tujuh mental investor yang merusak. Yaitu, mereka yang berpikir jangka pendek (think short term), rakus (be greedy), percaya bahwa banyak orang lain bodoh (believe in the greater fool), bermental kerumunan (run with the herd), gampang menyederhanakan masalah (overgeneralize), mengagungkan tren (be trendy), dan gemar memainkan uang orang lain (play with other people’s money).

Rontoknya pasar saham menunjukkan betapa rapuhnya fondasi kapitalisme Amerika Serikat dengan Wall Street sebagai pilar utamanya. Krisis terjadi akibat kombinasi dari moral hazard di kalangan industri keuangan Wall Street serta sikap menutup mata otoritas pasar finansial, moneter (Fed), dan pemerintah yang selama ini “diam-diam” bermain api dengan para pialang saham.

Setelah menelan pil pahit, dua kampiun neolib pembela liberalisasi pasar uang, yakni AS dan Inggris, akhirnya melarang investor keuangan melakukan aksi spekulasi short selling. Apakah itu pertanda lonceng kematian neoliberalisme dan bangkitnya negara dalam paradigma ekonomi Keynesian? Sejarahlah yang akan membuktikan. Yang jelas, seorang pialang saham dunia, George Soros, telah membunyikan alarm bahwa krisis pasar finansial Amerika harus menjadi titik tolak untuk mengakhiri liberalisasi tanpa batas. [Jawa Pos]


Misteri Ramadhan : Kapan Lailatul Qadar?

September 13, 2008

Secara qath-i ; Memang tidak ada kepastian mengenai kapan datangnya Lailatul Qadar, suatu malam yang dikisahkan dalam Al-Qur’an “lebih baik dari seribu bulan”.

Ada Hadits yang diriwayatkan Abu Dawud, meyebutkan bahwa Nabi pernah ditanya tentang Lailatul Qadar. Beliau menjawab: “Lailatul Qadar ada pada setiap bulan Ramadhan.” (HR Abu Dawud).

Namun menurut hadits lainnya yang diriwayatkan Aisyah, Nabi Muhammad SAW memerintahkan: “Carilah Lailatul Qadar itu pada tanggal gasal dari sepuluh terakhir pada bulan Ramadhan”. (HR. Bukhari).

Dan menurut pendapat yang lain, Lailatul Qadal itu terjadi pada 17 Ramadhan, 21 Ramadhan, 24 Ramadhan, tanggal gasal pada 10 akhir Ramadhan, Dan lain-lain.

Paling tidak ada tiga keutamaan yang digambarkan peristiwa lailatul qodar :

Pertama, orang yang beribadah pada malam itu bagaikan beribadah selama 1000 bulan, 83 tahun empat bulan. Diriwayatkan, ini menjadi penggembira umat Nabi Muhammad SAW yang berumur lebih pendek dibanding umat nabi-nabi terdahulu.

Kedua, para malaikat pun turun ke bumi, mengucapakan salam kesejahteraan kepada orang-orang yang beriman.

Dan ketiga, malam itu penuh keberkahan hingga terbit fajar.

Imam Bukhari dan Muslim, dari Abu Hurairah meriwayatkan Rasulullah SAW bersabda : “Siapa beribadah di malam Lailatul Qadar dengan rasa iman dan mengharap pahala dari Allah, ia akan diampuni dosanya yang telah lalu.”

Diantara hikmah tidak diberitahukannya tanggal yang pasti tentang Lailatul Qadar adalah untuk memotivasi umat agar terus beribadah, mencari rahmat dan ridha Allah kapan saja dan dimana saja, tanpa harus terpaku pada satu hari saja. Jika malam Lailatul Qadar ini diberitahukan tanggal kepastiannya, maka orang akan beribadah sebanyak-banyaknya hanya pada tanggal tersebut dan tidak giat lagi beribadah ketika tanggal tersebut sudah lewat. Umat Islam hanya ditunjukkan tanda-tanda kehadirannya.

Di antara tanda-tanda datangnya Lailatul Qadar adalah :

Pada hari itu matahari bersinar tidak terlalu panas dengan cuaca sangat sejuk, sebagaimana hadits riwayat Imam Muslim. Pada malam harinya langit nampak bersih, tidak nampak awan sedikit pun, suasana tenang dan sunyi, tidak dingin dan tidak panas. Hal ini berdasarkan riwayat, Imam Ahmad. Dalam Mu’jam at-Thabari al-Kabir disebutkan bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Malam Lailatul Qadar itu langit bersih, udara tidak dingin atau panas, langit tidak berawan, tidak ada hujan, bintang tidak nampak dan pada siang harinya matahari bersinar tidak begitu panas.”

Amalan-amalan untuk Mendapatkan Lailatul Qadar :

Para ulama kita mengajarkan, agar mendapatkan keutamaan Lailatul Qadar, maka hendaknya kita memperbanyak ibadah selama bulan Ramadhan, diantaranya :

  • Senantiasa shalat fardhu lima waktu berjama’ah.
  • Mendirikan qiyamur ramdhan / qiyamul lail shalat malam atau (shalat tarawih, tahajud, dll)
  • Membaca Al-Qur’an sebanyak-banyaknya dengan tartil.
  • Memperbanyak dzikir, istighfar dan berdoa.
  • Memperbanyak membaca Do’a :  Ya Allah, Sesungguhnya Engkau Dzat Maha Pengampun lagi Maha Pemurah, senang pada ampunan, maka ampunilah kami, wahai Dzat yang Maha Pemurah”.